Loading...

Kamis, 29 Januari 2009

PRINSIP DASAR PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

BIOGAS merupakan proses produksi energi berupa gas yang berjalan melalui proses biologis. Hal ini menyebabkan terdapatnya berbagai komponen penting yang berpengaruh dalam proses pembuatan biogas. Komponen biokimia (biochemist) dalam pembuatan biogas memerlukan perhatian penting. Proses kerja dari komponen tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah, sehingga membuka peluang untuk diadakannya penelitian lebih lanjut.

Gas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi dari pembuatan biogas adalah berupa gas metan. Gas metan ini diperoleh melalui proses dekomposisi bahan-bahan organik oleh mikroorganisme. Bahan-bahan organik yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan sangat mudah, bahkan dapat diperoleh dalam limbah. Proses produksi peternakan menghasilkan kotoran ternak (manure) dalam jumlah banyak. Di dalam kotoran ternak tersebut terdapat kandungan bahan organik dalam konsentrasi yang tinggi.

Gas metan dapat diperoleh dari kotoran ternak tersebut setelah melalui serangkaian proses biokimia yang kompleks. Kotoran ternak terlebih dahulu harus mengalami dekomposisi yang berjalan tanpa kehadiran udara (anaerob). Tingkat keberhasilan pembuatan biogas sangat tergantung pada proses yang terjadi dalam dekomposisi tersebut.

Salah satu kunci dalam proses dekomposisi secara anaerob pada pembuatan biogas adalah kehadiran mikroorganisme. Biogas dapat diperoleh dari bahan organik melalui proses "kerja sama" dari tiga kelompok mikroorganisme anaerob. Pertama, kelompok mikroorganisme yang dapat menghidrolisis polimer-polimer organik dan sejumlah lipid menjadi monosakarida, asam-asam lemak, asam-asam amino, dan senyawa kimia sejenisnya.

Kedua, kelompok mikroorganisme yang mampu memfermentasi produk yang dihasilkan kelompok mikroorganisme pertama menjadi asam-asam organik sederhana seperti asam asetat. Oleh karena itu, mikroorganisme ini dikenal pula sebagai mikroorganisme penghasil asam (acidogen).

Ketiga, kelompok mikroorganisme yang mengubah hidrogen dan asam asetat hasil pembentukan acidogen menjadi gas metan dan karbondioksida. Mikroorganisme penghasil gas metan ini hanya bekerja dalam kondisi anaerob dan dikenal dengan nama metanogen. Salah satu mikroorganisme penting dalam kelompok metanogen ini adalah mikroorganisme yang mampu memanfaatkan (utilized) hidrogen dan asam asetat.

Metanogen terdapat dalam kotoran sapi yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan biogas. Lambung (rumen) sapi merupakan tempat yang cocok bagi perkembangan metanogen. Gas metan dalam konsentrasi tertentu dapat dihasilkan di dalam lambung sapi tersebut. Proses pembuatan biogas tidak jauh berbeda dengan proses pembentukan gas metan dalam lambung sapi. Pada prinsipnya, pembuatan biogas adalah menciptakan gas metan melalui manipulasi lingkungan yang mendukung bagi proses perkembangan metanogen seperti yang terjadi dalam lambung sapi.

Metanogen membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal untuk dapat memproduksi gas metan. Metanogen sangat sensitif terhadap kondisi di sekitarnya. Bahan organik dalam kotoran sapi dapat menghasilkan gas metan apabila metanogen bekerja dalam ruangan hampa udara. Oleh karena itu, proses pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dilakukan dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat untuk menghindari masuknya oksigen. Reaktor harus bebas dari kandungan logam berat dan sulfida (sulfides) yang dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme.

Jumlah metanogen dalam kotoran sapi belum tentu dapat menghasilkan gas metan yang diinginkan. Gas metan diperoleh melalui komposisi metanogen yang seimbang. Jika jumlah metanogen dalam kotoran sapi masih dinilai kurang, maka perlu dilakukan penambahan metanogen tambahan berbentuk strater atau substrat ke dalam reaktor.

Metanogen dapat berkembang dengan baik dalam tingkat keasaman (pH) tertentu. Lingkungan cair (aqueous) dengan pH 6,5 sampai 7,5 di dalam reaktor merupakan kondisi yang cocok bagi pembentukan gas metan oleh metanogen. Tingkat keasaman di dalam reaktor harus dijaga agar tidak kurang dari 6,2.

Untuk memperoleh biogas yang sempurna, ketiga kelompok mikroorganisme tadi harus bekerja secara sinergis. Keadaan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ketiganya menjadi tidak optimal dalam menjalankan perannya masing-masing. Contohnya, jumlah kandungan bahan organik yang terlalu banyak dalam kotoran sapi akan membuat kelompok mikroorganisme pertama dan kedua untuk membentuk asam organik dalam jumlah banyak sehingga pH akan turun drastis. Hal itu akan menciptakan lingkungan yang tidak cocok bagi kelompok mikroorganisme yang ketiga. Akhirnya, gas metan yang dihasilkan akan sedikit, bahkan tidak menghasilkan gas sama sekali.

Untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembuatan biogas diperlukan ketelitian untuk memberikan lingkungan yang optimal bagi pembentukan gas metan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pengontrolan terhadap berbagai aspek, seperti tingkat keasaman, kandungan dalam kotoran sapi (C/N), temperatur, hingga kadar air. Selain itu, reaktor yang digunakan harus memenuhi syarat dan kapasitasnya sesuai dengan jumlah kotoran sapi sebagai input.

Manfaat lainnya

Sisa kotoran sapi yang telah digunakan dalam proses pembuatan biogas dapat dimanfaatkan menjadi pupuk. Jika kandungan gas metan dalam kotoran sapi telah diperoleh, maka kotoran tersebut dapat diambil dari reaktor dan digunakan sebagai kompos. Pupuk kompos dapat menyuburkan tanah dan tidak mengandung bahan kimia, sehingga penggunaannya dapat mendukung gerakan pertanian organik (organic farming).

Teknologi pembuatan biogas ini sangat ramah terhadap lingkungan karena tidak meninggalkan residu dan emisi gas berbahaya. Pengembangan teknologi biogas sangat mendesak untuk dilakukan, mengingat kebutuhan energi yang semakin mendesak pula. Berbagai penelitian pun sangat dibutuhkan untuk kemajuan teknologi biogas di masa depan. Teknologi ini harus semakin disosialisasikan sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat Indonesia, tentunya melalui dukungan kuat dari pemerintah. Mari.

Senin, 19 Januari 2009

ANALISIS USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PENGOLAHAN HASIL LIMBAH SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADAT DAN CAIR

Analisis Usaha Penggemukan Sapi Bali DAN Pengolahan Hasil Limbah Sebagai Pupuk Organik Padat dan Cair
Ketut Mahaputra, I Made Rai Yasa dan I Nyoman Adijaya
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali

ABSTRAK
Sapi Bali sampai saat ini masih merupakan komoditi unggulan bidang peternakan di Bali. Walaupun sebagai komoditi unggulan, sapi Bali memiliki banyak kelemahan yaitu pertumbuhan yang relatif lambat. Usaha penggemukan sapi Bali yang dilaksanakan pada lahan kering dicirikan dengan ketersediaan pakan ternak yang terbatas. Adanya inovasi teknologi penggemukan sapi Bali pada lahan kering memungkinkan untuk lebih meningkatkan pertambahan bobot sapi yang akhirnya akan menambah pendapatan bersih yang diterima petani. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2007 di Kelompok Tani Tunas Harapan Kita Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng sebagai salah satu wilayah Prima Tani yang telah mengembangkan usaha penggemukan sapi dengan kandang koloni berikut pengolahan limbah sebagai pupuk organik padat dan cair (Bio Urine). Dalam penerapan inovasi teknologi tersebut tentunya seiring dengan peningkatan biaya yang diperlukan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengetahui pendapatan bersih yang diterima petani setelah penerapan inovasi teknologi tersebut. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, penentuan sampel secara purposive dan analisis data dengan analisis parsial usahatani selama satu kali proses produksi (6 bulan) menggunakan pendekatan dengan rumus perhitungan: Pd = TR – TC, dilanjutkan dengan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan usaha penggemukan sapi diperoleh pendapatan bersih Rp. 7.831.675,- , dari pupuk organik cair (bio urine) sebanyak Rp. 2,334,138,- serta hasil pupuk padat sebesar Rp. 1,180,313,-. Jadi dalam periode 6 bulan usahatani penggemukan sapi Bali dan pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik padat maupun cair, memberikan pendapatan bersih kepada kelompok tani sebesar Rp. 11.346.125,- dengan R/C sebesar 1,2 yang berindikasi bahwa usaha tersebut menguntungkan untuk dilakukan.
Kata kunci : Penggemukan sapi, pupuk padat, pupuk cair, pendapatan

PENDAHULUAN
Keberadaan kegiatan Prima Tani yang merupakan kegiatan multi years memungkinkan melakukan kegiatan pengembangan inovasi teknis maupun kelembagaan secara bertahap. Salah satu kegiatan dalam mengoptimalkan sumberdaya lokal adalah pengembangan ternak sapi, dimana terdapat pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik dalam upaya pemulihan hara tanah.
Bali pada tahun 1999 memiliki populasi sapi sebanyak 526.013 ekor (Anonimous, 2000) dan telah menjadi 576.586 ekor atau meningkat 9,6% di tahun 2004 atau dengan kepadatan 102,36 ekor/km². Dengan kepadatan tersebut, menempatkan Bali sebagai daerah dengan populasi ternak sapi terpadat di Indonesia (Anonimous, 2004). Sapi Bali sampai saat ini masih merupakan komoditi unggulan bidang peternakan di Bali. Walaupun sebagai komoditi unggulan, sapi Bali memiliki banyak kelemahan yaitu pertumbuhan yang relatif lambat. Selain kelemahan tersebut sapi Bali memiliki kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan jenis sapi lainnya yaitu daya adaptasinya sangat baik dengan lingkungan pemeliharaanya (Darma, 1997).
Keadaan Umum lahan kering untuk daerah peternakan dicirikan dengan ketersediaan pakan ternak yang terbatas. Petani pada daerah ini pada umumnya petani kecil dengan tingkat perekonomian yang lemah dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga sangat berpengaruh terhadap cara berusahatani ataupun beternak (Suprapto, dkk. 1999). Keberhasilan dan keberlanjutan dari usaha peternakan skala rumah tangga untuk lahan kering akan sangat tergantung dari ketersediaan pakan guna pemenuhan kebutuhan ternak itu sendiri. Menurut Gunawan, dkk (1996), usaha penggemukan sapi potong memerlukan pakan dengan kwantitas yang cukup dengan kualitas yang baik secara kontinyu. Pemberian konsentrat sebagai pakan penguat biasanya dilakukan terbatas oleh petani yang memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang baik (Kusnadi, dkk. 1993). Akibatnya secara umum produktivitas sapi potong yang dipelihara petani di pedesaan menjadi rendah.
Adanya inovasi teknologi tentunya akan merubah struktur biaya dalam proses produksi untuk menghasilkan manfaat yang diinginkan, sehingga perlu dilihat keuntungan ataupun manfaat dari penerapan inovasi teknologi terutama dalam kegiatan peternakan penggemukan sapi yang dilakukan di daerah pengkajian.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian dilaksanakan di wilayah kajian Prima Tani Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering Kabupaten Buleleng, Kecamatan Gerokgak, Desa Sanggalangit yang ditentukan secara purposive pada Kelompok Tunas Harapan Kita untuk satu kandang koloni dengan jumlah sapi penggemukan sebanyak 10 ekor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2007. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara dengan alat bantu kuisioner. Analisis usahatani dilakukan secara parsial selama satu kali prose produksi (6 bulan) menggunakan pendekatan dengan rumus perhitungan :
Pd = TR - TC
TC = TFC + TVC
Keterangan : Pd = Pendapatan bersih ; TR = Total penerimaan ; TC = Total biaya yang terdiri atas biaya tetap dan biaya tidak tetap ; Py = Harga per satuan input
Selanjutnya perhitungan R/C ratio, merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan (Soekartawi, 2002).

PEMBAHASAN
Di Desa Sanggalangit sejak tahun 2003 telah berkembang kelompok penggemukan sapi. Penggemukan biasanya dilakukan selama 8 bulan dengan pakan tambahan berupa dedak padi dengan pakan dasar berupa hijauan yang ketersediannya sangat tergantung musim. Permasalahan utama yang dihadapi dalam usaha penggemukan sapi adalah kesulitan pakan di musim kering. Untuk itu perlu kiranya dalam usaha penggemukan sapi Bali direncanakan dengan melihat kalender musim hasil PRA (Participatory Rural Appraisal) serta data curah hujan yang telah dilaksanakan sebelumnya dalam hubungannya dengan ketersediaan pakan.
Curah Hujan Wilayah Gerokgak 1996-2006
Jenis pakan yang tersedia di kelompok ini sangat bervariasi tergantung musim, dimana pada bulan-bulan basah produksinya berlimpah sehingga petani dapat memilih jenis pakan yang dikehendaki. Semua jenis tanaman pakan ternak produksinya meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan dan menurun saat curah hujan menurun (Gambar 1). Petani merasakan pakan sangat melimpah saat MH dan paceklik pakan saat MK.
Sumber : Sri Agung 2006
Gambar 1. Data curah hujan di Kecamatan Gerokgak 1996-2006
Pakan yang umum diberikan sapi-sapi di kelompok ini antara lain rumput lapangan, gamal (Glirisidia sp), lamtoro, limbah jagung, gamelina, sonokeling, intaran (mimba), rumput kering di bukit, jerami padi (membeli dari daerah lain), daun kelapa, daun asem, waru, batang pisang, daun pisang kering dan lainnya. Secara umum di musim kering yang berlangsung antara bulan Juni sampai Nopember peternak sudah mulai kesulitan mencari pakan ternak. Pada saat MK tersebut waktu yang mereka habiskan untuk mencari pakan cukup lama karena jarak mencari pakan cukup jauh (sekitar 3-4 km). Gamelina, Sonokeling, dan Mimba (Intaran) merupakan tanaman penghijauan di bukit yang dijadikan sumber hijauan di saat MK. Selain itu, pohon mangga, asem dan tanaman lain pun tidak terlepas dari pemangkasan untuk pakan di musim kering. Lebih parah lagi ada beberapa petani mengumpulkan daun bambu kering untuk pakan.
Tabel 1. Keterkaitan Musim dengan Ketersediaan Pakan di Kec. Gerokgak, Kab. Buleleng Bali, 2004.
Parameter Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Musim Hujan
Pakan sulit
Sumber : Yasa, dkk. 2005
Menurut Yasa, dkk (2006), sapi-sapi di Desa Sanggalangit mengalami lima bulan krisis pakan yaitu dari bulan Juli sampai Nopember (Tabel 1). Pada bulan-bulan tersebut, sapi-sapi diberikan pakan seadanya dengan kualitas (kandungan gizi rendah) dan kwantitas terbatas. Pakan yang diberikan hampir 70% berupa pakan kering (hay) seperti limbah jagung, rumput gunung, jerami padi yang dibeli di desa lain, daun pisang kering dan pada puncak krisis ternak diberikan daun bambu. Untuk pakan segar, hijauan yang diberikan berupa daun gamal, lamtoro, gamelina, sonokeling, intaran (mimba), daun kelapa, daun asam, waru, batang pisang bahkan daun mangga juga diberikan
Melihat kondisi tersebut (Tabel 1) masa yang tepat untuk pengemukan sapi Bali adalah mulai dilakukan pada bulan Desember sampai dengan bulan Juni, sehingga dengan terjaminnya kwalitas maupun kuantitas pakan yang diberikan pada masa penggemukan diharapkan memberikan pertumbuhan optimal serta mempercepat periode produksi. Hal ini akan menjadi lebih efisien baik dari tenaga ataupun biaya lain dibutuhkan dalam proses produksi. Yasa, dkk (2006) menyatakan bahwa pertambahan bobot sapi pada bulan Maret sampai Juni, selanjutnya laju pertumbuhannya mulai menurun dari bulan Juli sampai Agustus. Kondisi ini seiring dengan menurunnya ketersediaan pakan khususnya untuk hijauan serta kurang baiknya kondisi lingkungan dengan rendahnya curah hujan pada saat itu. Memperhatikan kondisi seperti itu, penggemukan sebaiknya diawali pada bulan Desember selanjutnya dipasarkan pada bulan Mei-Juni tahun berikutnya. Strategi lain yang dapat dilakukan berupa peningkatan 1) volume pemberian pakan penguat, namun dengan perhitungan secara ekonomis terlebih dahulu; 2) memperbesar bobot badan awal sapi yang akan digemukkan, yakni paling tidak 300 kg supaya waktu pemeliharaan yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong menjadi lebih singkat (5 bulan); dan 3) meningkatkan sumber pakan hijauan bermutu melalui penananam hijauan pakan bermutu tahan kering seperti lamtoro yang telah terbukti berproduksi sepanjang tahun.
Dalam mengoptimalkan manfaat kegiatan penggemukan sapi Bali guna memberi nilai tambah dari investasi yang ditanamkan, berbagai produk dapat dihasilkan antara lain limbah sapi yang diolah sebagai pupuk organik padat dan cair (bio urine). Namun dalam proses produksi ikutan tersebut, perlu infrastruktur pendukung berupa kandang koloni untuk menunjang Instalasi Produksi Pupuk Organik Cair. Kandang koloni ini khusus dimanfaatkan untuk sapi penggemukan dan menunjang Instalasi Produksi Pupuk Organik padat dan cair. Kandang ini dibangun atas kerjasama BPTP Bali, Bappeda Provinsi Bali dan Kelompok Tani Tunas harapan Kita dengan biaya Rp. 25.166.500,-
Petani di Desa Sanggalangit secara umum berpendapatan rendah dengan kepemilikan lahan yang sempit (sekitar 0,5 Ha). Pendapatan yang rendah ini akan berdampak terhadap daya beli saprodi. Di lain pihak wilayah di desa ini merupakan lahan kritis yang butuh pupuk dan pupuk kimia harganya terus mengalami peningkatan. Untuk memecahkan masalah ini, maka diintroduksikan teknologi pengolahan kotoran ternak untuk menghasilkan pupuk organik padat dan cair.
Instalasi pupuk cair serta instalasi pengolahan pupuk padat sebagai pelengkap kandang koloni, dibangun tidak terlepas dari swadaya petani dengan menghabiskan anggaran senilai Rp. 7.611.000,- per unit. Menurut Yasa, dkk (2006) berbagai kelebihan diperoleh dari pupuk organik antara lain : 1) karena bentuknya cair, aplikasinya lebih mudah, karena bisa dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak harus membuat lubang pada tanah; 2) bahan baku pupuk organik bisa bertambah tidak hanya dari kotoran (faeces) tapi juga dari kencing ternak; dan 3) volume penggunaanya lebih hemat dibandingkan pupuk kompos. Untuk tanaman padi, jika pupuk kompos (padat) perhektar memerlukan 2,5 - 5 ton, maka dengan pupuk cair hanya memerlukan 1,2 ton permusim.
Satu ekor sapi memproduksi rata-rata 5 liter urin setiap hari, sehingga instalasi bio urin yang berisi 10 ekor sapi menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 500 liter per sekali proses (satu kali proses butuh waktu 10 hari). Dampak aplikasi pupuk organik ini cukup menggembirakan pada tanaman bawang merah. Pada proses produksi pupuk organik cair ini, menggunakan fermentor RB dan Azba produksi BPTP Bali
Demikian halnya dengan kotoran sapi yang semakin melimpah seiring dengan meningkatnya populasi sapi di desa ini. Untuk menjadi pupuk organik siap pakai secara alami membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan diperlukan fermentor dan tempat fermentasi seperti untuk menghindarkan kompos yang dihasilkan terkena air hujan dan terkena sinar matahari langsung.
Penggemukan di daerah pengkajian dilaksanakan selama 6 bulan yaitu dari bulan Januari sampai akhir Juni 2006, sapi yang diberikan pakan dasar hijauan segar dan kering secara ad libitum dengan tambahan pakan penguat berupa dedak padi sebanyak 2 kg/ekor; di tambah feed aditif berupa probiotik Bio Cas 5 ml per ekor per hari. Probiotik Bio-Cas merupakan cairan berwarna coklat hasil pengembangan BPTP Bali. Mikroorganisme ini dilaporkan mampu menguraikan bahan organik kompleks dalam pakan menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap oleh saluran pencernaan. Sapi yang digemukkan berumur antara 1,5 sampai 2 tahun dengan bobot awal rata-rata 254,7 kg. Sejalan dengan periode penggemukan yang sesuai di daerah pengkajian, bobot akhir sapi penggemukan selama 6 bulan pemeliharaan mencapai rata-rata 364,5 kg dengan kenaikan bobot per hari mencapai 0,61 kg. Hal ini sudah dapat meningkatkan bobot badan sapi untuk pemeliharaan di lahan marginal yang menurut Saka (1990), dengan pola pemeliharaan secara tradisional, tambahan bobot badan sapi Bali rata-rata 280 gram/ekor/hari. Keberhasilan peningkatan bobot badan tersebut disertai pula dengan peningkatan biaya diperlukan dalam proses produksi, sehingga lebih lanjut analisis usahatani penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni bersama dengan pemanfaatan limbahnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis Usahatani Penggemukan Sapi Bali Beserta Produksi Pupuk Organik Cair dan Padat di Kelompok Tunas Harapan Kita Sanggalangit, tahun 2006

No. Uraian Jumla Satuan Harga (Rp) Jumlah Biaya (Rp)
A Biaya
1. Sarana Produksi
- Sapi Penggemukan 10 Ekor 4.200.000 42.000.000
- Obat-obatan :
a. Mata 10 Ekor 7.500 75.000
b. Kulit 10 Ekor 20.000 200.000
c. Biocas (1 Ltr/ekor) 10 Kor 20.000 200.000
d. Dedak (2 kg/ekor/hari) 3650 Ekor 1.200 4.380.000
- Kandang koloni 1 Unit 25.166.500 1.258.325
2. Tenaga Kerja
- Mencari Pakan/HMT dan membersihkan kandang 182.5 Hok 23.000 4.197.500
3. Pembuatan Bio-rine
- Penyusutan Alat (usia ekonomi 10 th) 1 Unit 7.611.000 380.550
- Bahan lain :
a. Asetobacter (1 ltr utk 400 ltr urine) 182.5 Liter 25.000 570.313
b. Rummino Bacillus (0,5 ltr utk 400 ltr) 11.41 Liter 20.000 228.125
- Tenaga kerja 22.81 Hok 23.000 1.049.375
4. Fermentasi pupuk kandang
- Fermentor Rummino Bacillus (1 Ltr RB utk 1500 kg feces) 6 Kg 20.000 120.000
- Tenaga kerja 22.81 Hok 23.000 524.688
B Produksi/penjualan
1. Sapi Jantan 10 Ekor 6.014.250 60.142.500
- Total Biaya 52.310.825
- Pendapatan Bersih Ternak Sapi 7.831.675
2. Bio-urine 9125 Liter 500 4.562.500
(5 ltr/hari/ekor)
- Total Biaya 2.228.363
- Pendapatan Bersih Bio-urine 2.334.138
3. Pupuk kandang 9125 Kg 200 1.825.000
(5 Kg/hari/ekor)
- Total Biaya 644.688
- Pendapatan Bersih Pupuk Kandang 1.180.313
C Total Pendapatan Bersih 11.346.125
D R/C 1,2
Sumber : Data primer diolah
Biaya-biaya yang diperhitungkan dari analisis ini antara lain : 1) biaya pembuatan kandang koloni serta instalasi pendukung pembuatan pupuk organik padat dan cair (infrastruktur); 2) dan biaya dalam proses produksi meliputi penggemukan sapi, pembuatan pupuk padat serta pembuatan pupuk cair termasuk tenaga kerja yang dibutuhkan. Untuk biaya infrastruktur dihitung rata-rata penyusutan selama usia ekonomis. Tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan sesuai dengan upah yang berlaku termasuk konsumsi dan snack diberikan selama bekerja. Harga-harga satuan juga berdasarkan yang berlaku didaerah pengkajian, seperti harga penjualan pupuk padat dan pupuk cair yang dihasilkan.
Dari Tabel 2 terlihat penggemukan untuk 10 ekor sapi diperoleh pendapatan bersih Rp. 7.831.675,-. Dengan produksi urin sebanyak 5 liter per ekor per hari dan pupuk padat sebanyak 5 kg per ekor per hari diperoleh pendapatan bersih pupuk organik cair (bio urine) sebanyak Rp. 2,334,138,- serta hasil pupuk padat sebesar Rp. 1,180,313,-. Jadi dalam periode 6 bulan usahatani penggemukan sapi Bali dan pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik padat maupun cair, memberikan pendapatan bersih kepada kelompok tani sebesar Rp. 11.346.125,- dengan R/C sebesar 1,2 yang berindikasi bahwa usaha tersebut cukup menguntungkan dilakukan.

KESIMPULAN
Dari hasil kajian dapat disimpulkan :
1. Inovasi teknologi penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni dapat meningkatkan bobot sapi Bali yang sekaligus memberi nilai tambah dengan memanfaatkan limbah ternak tersebut sebagai pupuk organik padat maupun cair.
2. Usaha penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni bersama dengan pemanfaatan limbah, cukup menguntungkan dilaksanakan dengan memberikan kontribusi pendapatan bersih sebesar Rp. 11.346.125,- dengan R/C sebesar 1,2 sehingga cukup layak untuk dilanjutkan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2000. Informasi Data Peternakan Propinsi Bali Tahun 1999. Dinas Peternakan Propinsi Bali. Denpasar
Anonimus. 2004. Statistik Peternakan di Provinsi Bali Tahun 2004. Dinas Peternakan Provinsi Bali, Denpasar
Dharma, D.M.N dan A.A.G. Putra. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. CV. Bali Media Adhikarsa. Denpasar.
Gunawan., M.A. Yusron., Aryogi dan A. Rasyid. 1996. Peningkatan produktivitas pedet jantan sapi perah rakyat melalui penambahan pakan konsentrat. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Jilid 2. Puslitbangnak. Bogor.
Kusnadi, U., M. Sabrani., Wiloeto., S. Iskandar., D. Sugandi., Subiharta.., Nandang dan Wartiningsih. (1993) Hasil Penelitian Usahatani Ternak Terpadu di Dataran Tinggi Jawa Tengah. Balai Penelitian Ternak, Bogor
Saka,I.K. 1990. Pemberian pakan dan Pemeliharaan Ternak kerja. Makalah dalam Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. Balai Informasi Pertanian Bali. Denpasar 10-13 Desember 1990
Sukartawi. 2002. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia
Suprapto., I.K.Mahaputra., M.A. T. Sinaga., I.G.A. Sudaratmaja dan M.Sumartini. 1999. Laporan Akhir Pengkajian SUT Tanaman Pangan di Lahan Marginal. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar. Bali
Yasa, I.M.R., I.N. Adijaya., IGAK Sudaratmaja., I.K. Mahaputra., I.W. Trisnawati., J. Rinaldi., D.A. Elizabeth., A.K. Wirawan dan A. Rachim. 2005. Laporan Participatory Rural Appraisal di Desa Patas dan Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Denpasar.
Yasa, I.M.R. I.N. Adijaya, I.K. Mahaputra, I.A. Parwati. 2006. Pertumbuhan Sapi Bali yang Diggemukan di Lahan Kering Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Buleleng. Makalah Seminar Nasional. BPTP NTB.

PENGGEMUKAN SAPI DENGAN VITERNA plus

Kabar baik bagi anda Peternak sapi yang selama ini mengalami kerugian karena lamanya proses penggemukan sapi dan mahalnya pakan kosentrat.

Telah ditemukan suatu teknologi yang mampu Menggemukan sapi dengan waktu cukup 40Hari.
Kami perkenalkan produk dari PT.Natural Nusantara NASA DARI YOGYAKARTA :
1.VITERNA plus

VITERNA Plus merupakan suplemen pakan ternak yang diolah dari berbagai macam bahan alami (hewan dan tumbuhan), memberikan zat-zat yang sangat diperlukan ternak untuk :
1. Meningkatkan kuantitas (peningkatan Average Daily Gain /ADG bagi sapi dan peningkatan bobot panen bagi ayam) - kualitas daging (mengurangi kandungan kolesterol) - kesehatan ternak (mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit) semuanya merupakan Aspek K-3.
2. Memacu enzim - enzim pencernaan ternak.
3. Memberikan mineral - mineral esensial maupun non esensial.
4. Memberikan berbagai macam nutrisi alami untuk pertumbuhan ternak ( protein, lemak, vitamin, dsb.).
5. Menambah kandungan asam - asam lemak didalam rumen / lambung ternak.
6. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pakan (TDN).
7. Mengandung hormon pertumbuhan alami untuk mempercepat pertumbuhan ternak.
8. Meningkatkan nafsu makan.
9. Mengurangi kandungan kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran ayam
10.Produk alami aman untuk ternak dan lingkungan

Minggu, 18 Januari 2009

JERAMI PADI DICAMPUR DENGAN UREA DAN STARBIO

Jerami yang akan dicampur harus ditimbang terlebih dulu.Jerami bisa dalam keadaan kering ataupun basah ( segar ). Untuk jerami kering, urea yang digunakan harus dilarutkan kedalam air terlebih dulu, setiap 100 kg jerami kering dibutuhkan 100 liter air sebagai pelarut urea.Sedang untuk jerami segar, urea tak perlu dilarutkan kedalam air.Bila jerami segar yang dipilih maka setiap 100 kg jerami di butuhkan 10 kg urea + 10 kg starbio untuk ditaburkan diatasnya( dengan kata lain 1 kg jerami dengan 1 ons urea + 1 ons starbio ).Cara mencampurnya yaitu jerami di buat berlapis-lapis, setiap lapisan tebalnya 10 cm, setelah lapisan pertama ditebarkan lalu di tumpuki lapisan kedua begitu seterusnya, kemudian tutup tumpukan tersebut dengan plastik agar terjadi fermentasi, hindarkan dari terik sinar matahari dan hujan. Tunggu 21 hari untuk diberikan hewan ternak. Pencampuran ini dimaksudkan untuk menghancurkan ikatan silika dan lignin pada selulosa jerami, sehingga mudah dicerna dan kaya akan nitrogen, tingkat daya cerna jerami dapat meningkat dari 30 % menjadi 52 %.

JERAMI PADI KERING DENGAN NaOH

Olahan jerami padi kering dilakukan dengan cara jerami dicuci dengan NaOH. Jerami padi sebanyak 1 kg disiram secara merata dengan larutan NaOH 30 gram + air 1 liter, kemudian selelah disiram tunggu minimal 6 jam agar silika hancur. Menuruat Ditjen peternakan bahwa seekor sapi bisa diberikan jerami olahan ini sebanyak 5 kg + hijauan segar 5 kg + 5 gr mineral campuran yang bisa dibeli di toko dan garam dapur dua sendok makan.

JERAMI PADI KERING DENGAN TETES

Jerami padi olahan ini dibuat dengan cara difermentasikan selama 24 jam, yaitu jerami dipotong-potong, kemudian dicampur air dan tetes dengan perbandingan 2 : 1. Untuk setiap 10 kg jerami kering dibutuhkan tetes 1,5 kg dan air 3 kg ( 3 liter ), ditambah super phospat 25 gram ( 1 sendok makan ) dan amonium sulfat 25 gram juga, tunggu 24 jam baru diberikan pada sapi.

BUKU TENTANG PENGGEMUKAN SAPI POTONG

Penulis: Ir. Zainal Abidin
Jumlah halaman: 72 bw + 8 fc
Cetakan: 12
Penerbit: AgroMedia Pustaka
ISBN: 979-3084-33-2Membuka usaha memerlukan modal dan keberanian, juga pengetahuan. Buku ini mengajak Anda membuka usaha penggemukan sapi potong. Segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha penggemukan sapi potong dijelaskan. Dari cara perencanaan dan metode penggemukan, pemilihan bibit atau bakalan, pemberian pakan dan suplemen, perkandangan, hingga pengendalian penyakit dan analisis usaha penggemukannya dipaparkan secara rinci dan jelas

SUPLEMEN VETERNA PLUS

Tahukah Anda, untuk meningkatkan produksi daging pada ternak sapi potong cepat dibutuhkan kadar vitamin dan mineral tinggi. Pakan hijauan dan konsentrat belum cukup untuk mendapatkan bobot ideal dalam waktu singkat. Perlu suplemen/nutrisi khusus. Telah hadir produk VITERNA Plus, POC NASA dan HORMONIK sebagai suplemen yang akan membantu peternak. Praktis dan ekonomis serta telah terbukti kualitasnya.

BUDIDAYA SAPI POTONG KANG TRISNO

I. Pendahuluan.
Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.

II.Penggemukan

Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan).

Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong.
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

A. Sapi Bali.
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.

B. Sapi Ongole.
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

C. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

D. Sapi Madura.
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

E. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik

2. Pemilihan Bakalan.
Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan.
Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah :
- Berumur di atas 2,5 tahun.
- Jenis kelamin jantan.
- Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.
- Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).
- Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.
- Kotoran normal

III. Tatalaksana Pemeliharaan.
3.1. Perkandangan.
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.

3.2. Pakan.
Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.
Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.
Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.

Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA juga mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus. Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.

VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :
- Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah
dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K,
Ca, Mg, Cl dan lain-lain.
- Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.
- Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.
- Asam - asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.
Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau komboran dengan dosis :
5 cc/ekor perhari untuk sapi, kerbau dan kuda
4 cc/ekor perhari untuk kambing dan domba.
Penambahan VITERNA Plus tersebut dilakukan pada pemberian air minum atau komboran yang pertama.

3.3. Pengendalian Penyakit.
Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :

a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.

b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.

c. Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.
Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain.

IV. Produksi Daging.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah
1. Pakan.
Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.

2. Faktor Genetik.
Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.

3. Jenis Kelamin.
Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.

4. Manajemen.
Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat

Rabu, 14 Januari 2009

ANALISIS USAHA PENGGEMUKAN TERNAK SAPI POTONG HASIL INSEMINASI BUATAN STUDI DI KECAMATAN PANTI KABUPATEN JEMBER

Penelitian dilakukan di Kecamatan Panti Kabupaten Jember pada bulan Pebruari 2006 sampai dengan April 2006. Penelitian bertujuan untuk mengetahui macam biaya, besarnya biaya, pertambahan berat badan setelah proses penggemukan sapi potong dari hasil inseminasi buatan. Penggemukan dilakukan selama 180 hari dengan menggunakan hijauan pakan ternak (sebagian besar rumput), ampas tahu dan “tumpi jagung”. Sampel diambil sebanyak 30 orang dari populasi sebanyak 61 orang dengan cara simple random sampling.
Sapi bakalan yang digemukkan berumur 7 bulan berkelamin jantan dengan alasan bahwa sapi telah lepas sapih, sehingga berat badan menurun. Pada saat inilah peternak dapat membeli bakalan yang relatif lebih murah karena harga bakalan berdasarkan timbangan berat hidup yaitu Rp 18.500 per kg.
Hasil penelitian sebagai berikut : Biaya yang diperlukan untuk penggemukan adalah biaya variabel yang terdiri atas pakan hijauan, ampas tahu, tumpi jagung dan obat ternak semuanya senilai Rp 5.823.116 untuk rata-rata pemilikan 1,33 ekor.
Biaya tetap terdiri atas tenaga kerja, sewa lahan, depresiasi kandang adan alat serta bunga pinjaman sebesar Rp 589.590 , sehingga biaya total Rp 6.412.756. Pertambahan berat badan selama 180 hari proses penggemukan sebesar 190,204 kg, yaitu berasal dari bobot awal rata-rata 266,12 kg dan bobot akhir 456,324 kg. Penerimaan utama berupa bobot hidup sebesar Rp 8.442.000 ditambah penerimaan sampingan (pupuk kandang) sebesar Rp 23.900 sehingga peneri,aam total Rp 8.456.900. Dari penerimaan dan biaya yang telah dikeluarkan dapat dihitung keuntungan usaha sebesar Rp 2.053.144. Jadi per ekor sapi selama 180 hari dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.540.243. Kelayakan usaha mencapai 1,320 sehingga dapat dikatakan cukup layak dan usaha penggemukan ini hanya sebagai usaha sampingan dari usahatani yang utama yaitu usahatani tanaman. Uji signifikan menunjukkan t hitung ( 6,1315 ) lebih besar dari t tabel ( 1,699 ) pada dk = 29 dan tingkat kesalahan 5%, (uji satu pihak), maka Ho yang menyatakan bahwa tingkat efisiensi usaha penggemukan sapi potong dari hasil inseminasi paling kecil RCR = 1,2 harus diterima dan hal ini secara signifikan berlaku bagi seluruh populasi dari mana sampel diambil.

ANALISA PENGGEMUKKAN SAPI BALI DENGAN INTRODUKSI PAKAN DAN PROBIOTIK DI SUBAK GUAMA DAN SUBAK DAWAN

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan perkapita penduduk telah menyebabkan meningkatnya permintaan dan konsumsi daging, termasuk daging sapi. Hal ini tampak jelas dari pertumbuhan jumlah sapi yang dipotong maupun daging sapi yang dikonsumsi secara nasional beberapa tahun terakhir(Anon 2004). Sementara disisi lain pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi masyarakat, sehingga berakibat adanya kelebihan permintaan (over demand) dibandingkan penyediaan (supply).
Dalam rangka menanggulangi masalah tersebut telah ditempuh upaya untuk mencukupi kebutuhan sapi dan daging sapi dengan cara antara lain mengimpor baik dalam bentuk induk sapi, sapi potong, daging sapi maupun semen untuk inseminasi buatan. Pemenuhan kebutuhan impor tersebut didominasi oleh kebutuhan akan sapi potong (Darmadja, SGND.1990).
Potensi pengembangan sapi potong untuk wilayah Propinsi Bali cukup besar, karena didukung oleh potensi pasar yang masih kekurangan akan daging sapi potong serta makin meningkatnya konsumsi daging sapi perkapita. Selain itu peluang pengembangan usaha ini didukung oleh terjadinya perkembangan harga daging sapi di Bali yang terjadi 10 tahun terakhir, dimana secara konsisten terjadi peningkatan harga sekitar 5,26 – 23,8% pertahun.
Secara geografis dan historis Bali merupakan daerah pengem¬bangan ternak sapi yang cukup potensial. Hal ini didukung oleh kondisi geografis Bali berdasarkan daerah iklimnya, merupakan daerah dengan 8 bulan musim hujan dan 4 bulan musim kering. Adapun rata-rata curah hujan antara 2500 – 3000 mm pertahun (daerah iklim B) terdapat di Bali Tengah; daerah dengan 7 bulan musim hujan dan 5 bulan dengan musim kering (daerah Iklim C) dengan rata-rata curah hujan 2000 – 2500 mm pertahun terdapat di Bali Barat; daerah dengan 6 bulan musim hujan dan 6 bulan musim kering (daerah Iklim D) dengan curah hujan antara1500 – 2000 mm pertahun terdapat di Bali Selatan dan Bali Barat; daerah dengan 5 bulan musim hujan dan 7 bulan musim kering (daerah iklim E) dengan curah hujan antara 1000 – 1500 mm pertahun terdapat di Bali Selatan dan Tenggara; sedangkan daerah dengan 4 bulan musim hujan dan 8 bulan musim kering (daerah Iklim F) dengan curah hujan antara 800-1300 mm pertahun terdapat di Bali Timur dan Bali Utara. Dengan demikian maka Bali Timur dan Bali Utara keadaan cuacanya lebih kering jika dibandingkan dengan Bali Barat, Tengah dan Selatan.
Komoditi pertanian lahan kering dapat berupa tanaman pangan, tanaman perkebunan dan ternak. Namun karena distribusi sumber alam yang tidak merata dan sumber daya manusia yang masih terbatas, maka produktivitas dan kelestarian lingkungan pertanian lahan kering belum menjadi optimal.
Dari 563.286 ha lahan di Bali 63,47% adalah untuk pertanian, 22,28% untuk lahan alam, 5,91% untuk pemukiman, 5,91 sebagai lahan kritis, 0,61% sebagai danau dan rawa dan 1,23% untuk lain-lain. Dari lahan untuk pertanian tersebut 17,25% untuk sawah, 20,05% untuk tegalan dan 26,17% untuk perkebunan. Dengan demikian maka pertanian lahan kering 3,68 kali lebih luas dari pertanian lahan basah.
Umumnya pada pertanian lahan kering, petani biasanya menanam palawija (jagung, kacang-kacangan dan ketela pohon) di waktu musim hujan. Setelah panen, lahan dibiarkan kosong dan ditumbuhi rumput lokal yang nilai gizinya tidak begitu tinggi untuk ternak. Meskipun ternak terutama sapi, selalu diintegrasikan dengan pertanian lahan kering ini namun tidak ada lahan khusus yang disediakan untuk menanam hijauan makanan ternak. Hanya pada galangan ditanam rumput gajah untuk makanan ternak di waktu musim hujan, sedangkan semak dan pohon untuk makanan ternak di waktu musim kering. Dengan persediaan hijauan yang terbatas ini, maka ternak ruminansia sering kekurangan hijauan makanan ternak, terutama pada waktu musim kering.
Kontribusi peternakan terhadap PDRB pertanian di Bali atas dasar harga berlaku adalah 77,57% sedangkan atas dasar harga konstan adalah 25,42% (Anonim, 2004)
Sementara itu untuk melihat keberhasilan suatu usaha perlu adanya suatu kajian usahatani. Usahatani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produk di bidang pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh. Selisih keduanya merupakan kegiatan bagi usahataninya. Karena dalam kegiatan usahataninya petani bertindak sebagai pengelola, pekerja dan sebagai penanam modal pada usahanya maka pendapatan ini digambarkan sebagai balas jasa dari kerjasama faktor-faktor produksi. Analisa pendapatan usahatani mempunyai kegunaan bagi petani, pemilik faktor produksi yaitu: (1) menggambarkan suatu kegiatan usaha sekarang; (2) menggambarkan keadan yang akan datang dari perencanaan atau kegiatan. Secara khusus analisa pendapatan dapat memberikan bantuan untuk mengukur tingkat keberhasilan usahataninya (Soeharjo, 1996).
Menurut Soedarsono (1973), bagi petani pendapatan merupakan pedoman untuk menilai apakah usaha keluarganya berhasil atau tidak. Biaya total produksi adalah biaya tetap total ditambah biaya variabel total. Semakin banyak output yang dihasilkan, semakin rendah biaya tetap untuk menghasilkan setiap satuan output. Jadi biaya tetap rata-rata cendrung menurun begitu kuantitas output bertambah. Sedangkan biaya variabel adalah biaya untuk penggunaan input yang tidak tetap. Semakin banyak memakai input variabel, maka setiap input ekstra menyumbang output semakin sedikit.
Sekartawi dkk (1986) mendefinisikan penerimaan tunai usahatani (farm receipt) sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pengeluaran tunai usahatani (farm payment) didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Demikian juga pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pokok. Penerimaan tunai dan pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup yang berbentuk benda. Jadi, nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani, dan nilai kerja yang dibayarkan dengan benda tidak dihitung sebagai pengeluaran tunai usahatani. Selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani (farm net cash flow) dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Desa Dawan Kabupaten Klungkung dan Desa Guama Kabupaten Tabanan pada Tahun 2004. Dengan melibatkan 40 ekor ternak dengan rincian 20 ekor di Subak Guama, Tabanan dan 20 ekor di Subak Dawan, Klungkung. Rata- rata kepemilikan ternak sapi di kedua darah tersebut sebanyak 2 ekor/kk. Teknologi yang diberikan adalah pakan tambahan berupa complete feed 2 kg + 5 ml Biocas per ekor + HMT (jerami fermentasi + hijauan). Penelitian dilakukan selama 6 bulan, untuk mengetahui pengaruh perlakukan dilakukan penimbangan berat badan dengan penimbangan setiap bulan sekali.
Parameter yang diamati adalah hasil, keuntungan usahatani, R/C ratio untuk melihat kelayakan usaha.
1. Untuk mengetahui pendapatan bersih usaha pengembangan ternak sapi dengan teknologi pakan dan probiotik dapat digunakan rumus sebagai berikut :
NR = TR – TC
NR = Py. Y – (Px.X + TFC)
Keterangan :
NR = Net Revenue (pendapatan bersih)
TR = Total Revenue (pendapatan total)
TFC = Total Fixed Cost (total biaya tetap)
TC = Total Cost (biaya total)
X = Input
Py = Harga output
Y = Output
Px = Harga input
2. Gros R/C rasio, yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut (Adnyana, 1995).

Gross B/C =

Keterangan :
P = Produksi
H = Harga Produksi
B = Total Biaya
Analisis kelayakan usaha penggemukan sapi digunakan untuk melihat tingkat pengembalian atas biaya usaha tani yang telah dikeluarkan untuk menerapkan teknologi introduksi. Apabila Gross B/C > 1, maka usaha tani dianggap layak secara finansial, karena keuntungan bersih masih lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknologi introduksi yang diterapkan pada penggemukan sapi dalam penelitian ini adalah pemberian 2 kg complete feed + 5 ml Biocas per ekor per hari. Complete feed merupakan pakan komplit yang disediakan dipasaran yang merupakan pakan komersial yang telah mengandung nutrisi yang lengkap.
Sedangkan Biocas merupakan probiotik yang mengandung berbagai mikroba pemecah serat seperti selulolitik, lipolitik, dan lain-lainnya yang diharapkan dapat membantu ternak dalam mencerna serat kasar seperti jerami dan pakan hijauan lainnya sehingga mampu dijadikan bahan-bahan yang lebih bermanfaat. Penggemukan di subak Dawan dengan pemberian pakan tambahan berupa complete feed dan probiotik Biocas memperoleh peningkatan berat badan harian mencapai 0,41 kg per ekor per hari dengan berat awal pemeliharaan 174 kg/ekor.
Tabel 1. Peningkatan rata-rata berat badan/hari, berat badan awal, berat badan akhir pada pola penggemukan sapi kereman di subak Dawan Klungkung dan Subak Guama Tabanan.
Manajemen Berat badan awal (kg) Berat badan akhir (kg) Rata-rata pertambahan Berat badan per hari (kg)
Tek. Rekomendasi 253 366 0,63
Subak Dawan 179 216 0,41
Subak Guama 264 320 0,62

Ket: Teknologi Penelitian : HMT (Hijauan + Jerami Fermentasi) + 2 kg complete feed + 5 ml Biocas per ekor per hari

Sedangkan bagi sapi yang digemukkan di subak Guama mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian mencapai 0,62 kg/ekor/hari dengan berat awal pemeliharaan adalah 264 kg/ekor. Pemberian complete feed yang merupakan pakan jadi memiliki susunan ransum yang komposisinya telah disesuaikan dengan kebutuhan ternak khususnya sapi (ruminansia), dan akhirnya lebih mudah dicerna oleh tubuh ternak sehingga mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin (Suyasa, dkk. 2004). Sedangkan pemberian Biocas yang merupakan kumpulan mikroba pemecah serat akan membantu mikroba yang telah berada di lambung ternak untuk mencerna serat-serat yang dimakan ternak menjadi bahan-bahan yang siap diserap oleh tubuh sehingga lebih banyak yang dapat dimanfaatkan. Antara sapi penggemukan yang dipelihara di Subak Guama dengan sapi penggemukan di subak Dawan diberikan jenis pakan dan probiotik yang sama namun menghasilkan pertambahan berat badan harian yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh berat badan awal pemeliharaan yang berbeda dimana sapi-sapi yang dipelihara disubak Guama memiliki berat badan awal pemeliharaan 264 kg/ekor sedangkan sapi-sapi yang dipelihara di subak Dawan hanya memiliki berat badan awal rata-rata 174 kg/ekor. Menurut Suyasa, dkk. (1997) dan Widiyazid, dkk. (1998), pertumbuhan sapi penggemukan adalah seperti sigmoid, dimana semakin besar berat awal yang dimiliki maka akan semakin cepat pertumbuhannya. Pertambahan berat badan harian yang dicapai di subak Guama masih lebih rendah bila dibandingkan dengan yang direkomendasikan yang mencapai 0,63 kg/ekor/hari. Selain pakan tambahan variasai pakan utama juga dapat menentukan hal ini. Dengan pemberian HMT (berupa rumput 70% + leguminosae 30%) dengan pakan tambahan 2 kg dedak dan 10 cc probiotik Bioplus mampu meningkatkan berat badan harian 0,68 kg/ekor/hari (Suyasa, dkk. 1999).
Selama ini sapi dengan berat sekitar 174 kg/ekor masih dikategorikan sebagai bibit, sehingga belum layak dipakai sebagai bakalan untuk digemukkan karena masih dalam masa pertumbuhan. Sapi-sapi yang termasuk dalam kategori bakalan untuk digemukkan adalah sapi-sapi yang telah dewasa atau berakhir masa pertumbuhannya sehingga kalau dipelihara hanya akan bertambah besar/gemuk. Peningkatan yang dicapai pada sapi-sapi yang digemukkan baik di subak Dawan maupun Guama yang mencapai 0,41 kg/ekor/hari dan 0,62 kg/ekor/hari masih jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh masyarakat selama ini. Sapi-sapi yang dipelihara oleh petani biasanya hanya diberikan pakan tradisional saja dengan pakan tambahan seadanya, sehingga dalam setahun baru mampu menjual ternaknya dengan pertambahan berat badan dalam setahun + 100 kg/ekor. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pertambahan berat badan harian yang dicapai pada sapi-sapi kereman yang dipelihara dengan pola petani masih sangat rendah. Hasil ini juga menunjukkan bahwa teknologi penggemukan yang diterapkan di subak Dawan dan Guama telah mampu dilaksanakan dan disebarkan sehingga diminati oleh sebagian besar anggota subak yang lain.
Sedangkan untuk Analisa Usaha taninya, dalam penelitian ini untuk pemeliharaan 2 ekor ternak yang digemukkan membutuhkan biaya selama pemeliharaan (6 bulan) Rp 752.400,- untuk membiayai pakan tambahan dan probiotik. Sedangkan untuk membiayai tenaga kerja dibutuhkan Rp 885.000,- selama 6 bulan. Nilai bibit sapi di Subak Guama Rp 6.336.000,- sedangkan di Dawan hanya Rp 3.938.000,- perbedaan ini disebabkan karena berat badan awal yang berbeda sehingga harga beli juga berbeda (Tabel 2).
Tabel 2. Tingkat Keuntungan dan B/C ratio usahatani ternak sapi kereman di Subak Guama dan Dawan per 2 ekor ternak
Uraaian Subak Guama Subak Dawan
Unit (ekor) 2 2
Harga/kg (Rp), jual 14.200 13.000
Berat Awal Ternak, kg/ekor 264 179
Berat Badan jual (kg/ekor) 375,6 252,8
Penjualan pupuk Kompos (Rp) 504.000 504.000
Penerimaan kotor per (Rp) 11.171.040 7.076.800
Biaya input produksi (Rp) 752.400 752.400
Biaya tenaga Kerja (Rp) 885.000 885.000
Nilai Bibit Awal (Rp) 6.336.000 3.938.000
Keuntungan riil (Rp) 3.197.640 1.501.400
Total biaya/ 2 ekor (Rp) 7.973.400 5.575.400
Keuntungan setahun ( dengan pemeliharaan 2 ekor/6 bulan sehingga dalam setahun 4 ekor) (Rp) 6.395.280 3.002.800
B/C Ratio 1,40 1,27
Penerimaan per hari/2 ekor (Rp) 17.764 8.341
Dalam hal ini berlaku harga pasar yang menganut aturan semakin berat ternak tersebut harga per satuan berat semakin mahal. Dengan harga jual tersebut maka keuntungan yang diperoleh sapi yang dipelihara di Guama adalah Rp 2.693.640,- untuk 2 ekor ternak dalam jangka waktu 6 bulan sehingga B/C ratio yang dicapai 0,33. (Tabel 2). Sedangkan sapi kereman yang dipelihara di subak Dawan hanya memperoleh keuntungan Rp. 997.400,- untuk 2 ekor ternak per 6 bulan dengan B/C ratio 0,17. Keuntungan yang dicapai di Guama per hari per 2 ekor adalah Rp 14.964,- sedangkan di dawan hanya mencapai Rp. 5.541,-. Dalam setahun di Guama mampu dipelihara 4 ekor dengan keuntunga mencapai Rp. 5.387.280,- sedangkan di Dawan dalam setahun hanya memperoleh keuntungan Rp. 1.994.800,- Namun demikian keuntungan lain yang dapat diperoleh oleh petani dalam pemeliharaan ternak ini adalah kotorannya yang dapat dipakai sebagai pupuk. Sehingga dalam mengelola usaha taninya tidak lagi berpikir untuk membeli kompos untuk tanamannya.
KESIMPULAN
1 Pemberian pakan tambahan berupa Complete feed dan Biocas pada pakan ternak yang digemukkan di subak Guama dan Dawan mampu memberikan peningkatan berat badan harian 0,62 dan 0,41 kg/ekor/hari, sehingga bobot akhir mencapai 375,6 dan 252,8.kg/ekor.
2 Dalam pelaksanaan penelitian ini untuk usatani ternak diperoleh keuntungan mencapai Rp. 6.395.280 dan Rp. 3.002.800,- dengan B/C ratio 1,40 dan 1,27 masing-masing untuk subak Guama dan Dawan

Senin, 12 Januari 2009

BIOTETES SOZO FM-4

Sekarang ada lagi terobosSOZO 4 (Jamunya Sapi)an bioteknologi karya warga Gorontalo, yakni Biotetes Sozo FM-4. Menurut Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, pihaknya sudah menerapkan pola penggemukan sapi dengan formula tersebut. Hasilnya, peternak Gorontalo sudah bisa memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat setempat. Bahkan, lanjut dia, melalui kebijakannya dalam setahun ke depan akan mulai mengekspor daging sapi lokal berkualitas ekspor ke Malaysia. “Dengan penambahan suplemen Sozo FM-4, penggemukan sapi itu menghasilkan daging berkualitas ekspor. Seperti tak berbau, berwarna merah cerah, sedikit lemak, lebih empuk, dan gurih meski diolah tanpa bumbu,” tandasnya. Di Gorontolo, imbuh Fadel, para peternak telah menggunakan Sozo FM-4 sejak setahun lalu. Dampaknya, peternak memperoleh keuntungan berlipat ganda. Manfaat nutrisi alami ini pun sudah dinikmati para peternak di Kalimantan.

Awal Desember, Fadel datang ke Bandung untuk menyaksikan pemotongan sapi yang telah diberi perlakuan Sozo. Pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Cirangrang, Kopo, Kota Bandung.

Formulator Sozo, David Andi, menyatakan, sapi yang digemukkan dengan menambahkan biotetes Sozo FM-4, selain lebih cepat gemuk dan dagingnya padat, juga rasanya gurih serta berserat lebih halus. ”Kotorannya pun tak berbau dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk kompos tanpa harus difermentasi,” ungkapnya sembari mencium kotoran sapi itu.

Aji Cucu Anggara, seorang pedagang daging grosir di Pasar Andir, Kota Bandung, mengaku, baru petama kali mendapatkan daging sapi segar, berwarna merah cerah, tak berbau, dan berserat halus. ”Daging sapi ini termasuk grade A. Dan daging semacam ini banyak diminati konsumen,” komentarnya sambil menepuk-nepuk karkas sapi yang dipotong di Cirangrang itu.

Pakan Irit, ADG Naik
Boleh percaya atau tidak, kehadiran Sozo bisa menjadi angin segar bagi pengembangan usaha penggemukan sapi potong di tanah air. Betapa tidak, selain meningkatkan kualitas daging, secara signifikan formula tersebut mampu meningkatkan ADG, mengirit pakan, dan mereduksi dampak negatif limbahnya terhadap lingkungan.

Sozo FM-4 sudah dicoba di LJP selama 92 hari penggemukan. Dari 30 ekor sapi yang diuji, 8 ekor di antaranya sudah dipotong. Indeks pertumbuhan sapi yang diberi perlakukan feed suplement itu rata-rata mencapai 44,8%. Sementara kontrol hanya 31,8%. Pun ADG-nya, dengan aplikasi Sozo FM-4, rata-rata menghasilkan 1,615 kg. Kontrolnya rata-rata 1,221 kg.

Bukan hanya itu, menurut Toni, dengan menambahkan Sozo, pemberian pakan bisa ditekan menjadi 8 kg/hari/ekor. Padahal, untuk setiap kenaikan satu kg bobot badan sapi potong diperlukan pakan rata-rata 10 kg/hari/ekor (tergantung bobot badan).

Aplikasi Sozo pun terbilang mudah. Menurut David, penggunaannya cukup diteteskan pada air minum atau pakan. Dosisnya, satu tetes per 40 kg bobot badan sapi. Frekuensi pemberian sekali sehari, selama masa penggemukan. Biotetes itu dijual dalam kemasan botol mini 10 ml atau berisi 200 tetes.

Tentu, dengan penambahan Sozo, biaya pakan bertambah. Dari hasil uji coba di LJP, tambahan biaya itu Rp1.000/ekor/hari. Walau begitu ada selisih ADG 0,394 kg/hari. Bila harga sapi hidup dihargai Rp18.000/kg, maka diperoleh penambahan Rp7.092/hari.

Penambahan pendapatan juga diperoleh dari selisih konsumsi pakan sebanyak 2 kg, atau sekitar Rp3.000. Dengan demikian, tambahan keuntungan per harinya sebesar Rp9.092. Kalau digemukkan selama 90 hari, berarti pendapatannya Rp818.280/ekor. Angka ini belum menghitung selisih karkas. Sedangkan dari hasil pengujian di LJP, karkas belum potong lemak dari sapi yang diberi perlakuan Sozo FM-4 sekitar 52%—55%. Kontrolnya sendiri berkisar 51%—53%.

Anda masih belum yakin? “Terus terang, LJP pun termasuk perusahaan yang sulit untuk orang melakukan penelitian. Karena sebelumnya banyak orang yang berdagang dan mengiming-imingi ADG bisa naik 2—4 kg. Tapi ternyata hanya main-main,” aku Toni. Pihaknya mau melakukan penelitian Sozo karena ditantang apapun pihak Sozo mau. Waktu itu juga pihak Sozo tidak mengiming-imingi ADG akan naik sekian. Hanya disebutkan bau kotoran sapi akan menurun dan kualitas daging meningkat. “Setelah diteliti, ternyata dari bobot badan pun ada perbedaan antara yang diberi perlakuan dengan kontrol,” jelasnya.

Kendati demikian, menurut Yudi, teknologi tersebut bisa diadopsi bila ketersediaan sumber pakan dapat teratasi lebih dulu. “Mengenai probiotik itu, kita harus mengadvokasi peternak yang tidak punya riset pakan. Kalau perlu difasilitasi pemerintah, lalu disosialisasikan kepada para peternak. Soalnya, improvement feedlot dalam teknologi pakan jauh lebih tinggi ketimbang peternak,”


(Gambar)
Sebuah terobosan baru dalam dunia pengembangan ruminansia telah muncul yaitu produk SOZO 4.
Dibuat untuk mengoptimalkan sistem metabolisme lemak ruminansia sehingga lebih sehat, pertumbuhan lebih cepat (ADG naik hingga 30-50%), ramah lingkungan (tidak bau) dan keuntungan meningkat.
SOZO 4 terbuat dari bahan alami 100%, diproses secara selektif oleh bakteri dekomposer sehingga menghasilkan komposisi nutrisi yang lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan pertumbuhan ternak sehingga mudah diserap tanpa ada efek samping.

Kandungan isi:
1. 12 macam asam amino essensial dan 8 macam asam lemak
2. Vit A, C, D, E dan K
3. Hormon auksin
4. 3 macam Enzim (Protease, Fitase,lipase)
5. Bakteri Dekomposer Lactobacillus

Kemasan : 10 ml
Dosis : 1 tetes (kurang lebih 20 tetes setiap m)
40 Kg berat badan hidup / hari.
Hewan Ruminansia : Sapi pedaging, Sapi perah, Kambing, Domba

Untuk sapi perah :
- Aplikasi sama 1 tetes = 40 kg berat badan / hari, asumsi ternak berat 400 kg = 10 tetes diberikan 2 kali saat pemberian comboran / saat pemberian pakan konsentrat, SOZOFM-4 di campur langsung pada pakan.
- Untuk pedet 1 – 2 tetes perhari, bisa diaplikasikan / dicampur dengan susu.
- Untuk mengatasi mastitis, dosis 2 kali dosis normal atau 1 tetes = 20 kg berat badan sampai sembuh / susu sudah bisa dikonsumsi atau tidak pecah saat test alkohol.
Manfaat SOZO 4 Ruminansia :
1. Meningkatkan selera makan dan kesehatan ternak.
2. Metabolisme ternak Optimal sehingga daya cerna rumen lebih sempurna, sehingga limbah benar-benar ampas yang sudah tidak berbau dan limbah dapat diaplikasikan sebagai pupuk tanaman langsung pakai tanpa perlu dekomposisi ( instant ).
3. Energi yang terserap mampu meningkatkan kualitas susu ( TS ,Density, TPC dibawah 1 juta ).
4. Cita rasa susu lebih enak, daya tahan susu lebih lama ( aplikasi jangka panjang membuat susu bisa bertahan tidak rusak selama lebih dari 10 jam, disimpan dalam suhu ruangan tanpa pasteurisasi / pemanasan dan pendinginan ).
5. Menanggulangi dan menyembuhkan mastitis tanpa suntik, tanpa antibiotik, sehingga kerugian peternak saat susu tidak dapat dikonsumsi saat mastitis tidak terjadi.

Aplikasi untuk penggemukan,
1 tetes SOZOFM – 4 untuk 40 kg.
Contoh : berat ternak diperkirakan 210 kg = 210 : 40 = 5,02 maka dosisnya 5 tetes / hari + 200 ml air di tuang dalam botol, langsung dicekokan dipagi hari usahakan disaat ternak belum makan.

Dapat juga di campur pada pakan, dosis 1 tetes per Kg pakan konsentrat, dicampur di mixer pakan saat pengadukan, (dapat dicampur dengan molase untuk mengencerkan).

Manfaat
1. Meningkatkan kesehatan dan selera makan ternak.
2. Mengoptimalkan proses metabolisme ternak, sehingga pakan yang diberikan akan terserap maksimal, limbah padat dan limbah cair tidak berbau, bahkan dapat dipakai sebagai pupuk langsung pakai, tanpa proses dekomposisi ( peranan Lactobacillus dan enzyme ).
3. Peranan asam amino, asam lemak dan Lactobacillus memperbaiki dan membangun sel yang rusak, sehingga dapat juga sebagai obat luka luar seperti luka disekitar mata, sekitar kaki dll.
4. Anti Oksidan, sehingga kualitas hidup ternak meningkat, kualitas daging meningkat, dan ternak tidak mudah stress walau cuaca atau lingkungan kurang mendukung.
5. Pertumbuhan ternak relative lebih cepat tetapi kandungan lemak dalam daging relative sedikit.
6. Daging cepat empuk saat dimasak, dan citarasanya lebih enak.

Untuk luka bisa di oleskan atau di semprot satu kali setiap hari dengan cara SOZOFM – 4 di encerkan dengan air 1 : 3 ( 10 ml SOZOFM – 4 + 30 ml air ).

SOZO FM 4 DASYAT ( Majalah Agrina )
AGRINA ONLINE http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=7&aid=1140 11 December 2007 Yang Baru Untuk Penggemukan Sapi Dengan semakin mahalnya harga bahan baku, inovasi teknologi menjadi penting guna meningkatkan efisiensi pemberian pakan sekaligus menaikkan produktivitas. Dalam bisnis sapi potong, banyak persoalan yang dihadapi peternak rakyat maupun pengusaha penggemukan (feedloter). Di antaranya, rendahnya tingkat pertambahan bobot badan sapi yang diusahakan (ADG). Padahal, aktivitas penting dalam usaha sapi potong itu adalah penggemukan. Di samping faktor genetis, ternyata kegiatan itu tidak dapat dilepaskan dari jaminan ketersediaan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya. “Pakan memegang peranan 60%—70% dalam meningkatkan produktivitas,” ungkap Rochadi Tawaf, Ketua PPSKI Jabar. Menurut ahli maupun para pengusaha penggemukan, pakan yang baik untuk sapi potong adalah yang dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Secara alami, nutrisi tersebut terdapat dalam rerumputan, seperti rumput gajah. Namun, ketersediaan rumput kian hari semakin berkurang lantaran lahan pertanian banyak tergusur oleh kepentingan pembangunan lain. Di lain pihak, ketersediaan pakan di pedesaan yang berlimpah adalah jerami. Sayangnya, beda dengan rumput gajah, “Jerami termasuk sumber pakan yang berkualitas rendah sehingga untuk meningkatkan mutu jerami diperlukan sentuhan teknologi,” urai Rochadi. Dalam usaha penggemukan sapi pun tak hanya butuh ketersediaan pakan utama. Untuk mempercepat pertambahan bobot badan diperlukan pula pakan tambahan berupa konsentrat. Beberapa sumber bahan pakan tambahan yang biasa dimanfaatkan para peternak, dan kemudian diramu menjadi konsentrat, yaitu dedak, gaplek, onggok (ampas singkong), tepung jagung, pollar (ampas gandum), ampas tahu, bungkil kopra, atau limbah sawit. Persoalannya, menurut Yudi Guntara Noor, Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), sumber bahan baku pakan saat ini bermasalah. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Ia memberi contoh, sekarang gaplek sulit diperoleh. Sebab, banyak diekspor untuk kepentingan industri bioetanol. “Gaplek itu ada harga, nggak ada barang,” tandasnya. Demikian juga dengan onggok maupun pollar, lebih banyak diekspor. Saking sulitnya mendapatkan sumber energi, ada feedlot yang menggunakan bungkil kedelai, walaupun harganya mahal karena barang impor. Padahal sebelumnya tidak ada cerita feedlot memanfaatkan bahan baku pakan impor. Belum lagi, lanjut Yudi, berbicara soal pergeseran iklim yang berpengaruh terhadap perubahan peta pertanian. Probiotik Toni M. Wibowo, Direktur Operasional PT Lembu Jantan Perkasa (LJP), feedlot di Bandung, berpendapat, sebenarnya usaha penggemukan saat ini sudah memasuki masa jenuh. Sehingga perlu terobosan teknologi baru untuk bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas daging, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Hal senada diutarakan Rochadi. “Dengan naiknya harga bakalan dan sumber bahan baku pakan seperti sekarang, feedlot akan gulung tikar bila hanya mampu menghasilkan ADG 1,2 kg,” tandasnya. Supaya untung, imbuh dia, ADG-nya minimal harus 1,4 kg. Oleh sebab itu, perlu ada inovasi teknologi untuk menghasilkan bahan-bahan tambahan pakan yang mampu menaikkan ADG, dan mempercepat pertumbuhan. Inovasi teknologi itu pun mesti mampu mengefisienkan penyerapan pakan oleh ternak, sehingga dapat mengurangi kebutuhan pakan yang telah dihitung berdasar teori. Namun teknologi juga harus mampu menambah bobot badan harian secara optimal. “Inovasi teknologi untuk meningkatkan produktifitas itu sangat banyak. Salah satunya adalah probiotik,” ucap Rochadi. Dalam pengembangan teknologi di dunia sekarang, lanjut dia, probiotik paling banyak digunakan.. Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bogor, Jabar, probiotik adalah mikroba hidup dalam media pembawa yang menguntungkan ternak. Mikroba itu mampu menciptakan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan kondisi optimum untuk pencernaan pakan, dan meningkatkan efisiensi konversi pakan. Zat nutrisi pakan pun menjadi mudah diserap. Manfaat lain adalah meningkatkan kesehatan ternak, mempercepat pertumbuhan, memperpendek jarak beranak, menurunkan kematian pedet, dan memproteksi dari penyakit penyebab penyakit tertentu. Pada akhirnya probiotik dapat meningkatkan produksi daging maupun susu. Di pasaran, kita mengenal beberapa bioteknologi probiotik yang sudah lama beredar seperti Starbio, Bioplus, dan Biosuplemen. Beragam formula itu menawarkan beberapa kelebihan yang berbeda. Biotetes Di luar itu, sekarang ada lagi terobosan bioteknologi karya warga Gorontalo, yakni Biotetes Sozo FM-4. Menurut Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, pihaknya sudah menerapkan pola penggemukan sapi dengan formula tersebut. Hasilnya, peternak Gorontalo sudah bisa memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat setempat. Bahkan, lanjut dia, melalui kebijakannya dalam setahun ke depan akan mulai mengekspor daging sapi lokal berkualitas ekspor ke Malaysia. “Dengan penambahan suplemen Sozo FM-4, penggemukan sapi itu menghasilkan daging berkualitas ekspor. Seperti tak berbau, berwarna merah cerah, sedikit lemak, lebih empuk, dan gurih meski diolah tanpa bumbu,” tandasnya. Di Gorontolo, imbuh Fadel, para peternak telah menggunakan Sozo FM-4 sejak setahun lalu. Dampaknya, peternak memperoleh keuntungan berlipat ganda. Manfaat nutrisi alami ini pun sudah dinikmati para peternak di Kalimantan. Awal Desember, Fadel datang ke Bandung untuk menyaksikan pemotongan sapi yang telah diberi perlakuan Sozo. Pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Cirangrang, Kopo, Kota Bandung. Formulator Sozo, David Andi, menyatakan, sapi yang digemukkan dengan menambahkan biotetes Sozo FM-4, selain lebih cepat gemuk dan dagingnya padat, juga rasanya gurih serta berserat lebih halus. ”Kotorannya pun tak berbau dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk kompos tanpa harus difermentasi,” ungkapnya sembari mencium kotoran sapi itu. Aji Cucu Anggara, seorang pedagang daging grosir di Pasar Andir, Kota Bandung, mengaku, baru petama kali mendapatkan daging sapi segar, berwarna merah cerah, tak berbau, dan berserat halus. ”Daging sapi ini termasuk grade A. Dan daging semacam ini banyak diminati konsumen,” komentarnya sambil menepuk-nepuk karkas sapi yang dipotong di Cirangrang itu. Pakan Irit, ADG Naik Boleh percaya atau tidak, kehadiran Sozo bisa menjadi angin segar bagi pengembangan usaha penggemukan sapi potong di tanah air. Betapa tidak, selain meningkatkan kualitas daging, secara signifikan formula tersebut mampu meningkatkan ADG, mengirit pakan, dan mereduksi dampak negatif limbahnya terhadap lingkungan. Sozo FM-4 sudah dicoba di LJP selama 92 hari penggemukan. Dari 30 ekor sapi yang diuji, 8 ekor di antaranya sudah dipotong. Indeks pertumbuhan sapi yang diberi perlakukan feed suplement itu rata-rata mencapai 44,8%. Sementara kontrol hanya 31,8%. Pun ADG-nya, dengan aplikasi Sozo FM-4, rata-rata menghasilkan 1,615 kg. Kontrolnya rata-rata 1,221 kg. Bukan hanya itu, menurut Toni, dengan menambahkan Sozo, pemberian pakan bisa ditekan menjadi 8 kg/hari/ekor. Padahal, untuk setiap kenaikan satu kg bobot badan sapi potong diperlukan pakan rata-rata 10 kg/hari/ekor (tergantung bobot badan). Aplikasi Sozo pun terbilang mudah. Menurut David, penggunaannya cukup diteteskan pada air minum atau pakan. Dosisnya, satu tetes per 40 kg bobot badan sapi. Frekuensi pemberian sekali sehari, selama masa penggemukan. Biotetes itu dijual dalam kemasan botol mini 10 ml atau berisi 200 tetes. Tentu, dengan penambahan Sozo, biaya pakan bertambah. Dari hasil uji coba di LJP, tambahan biaya itu Rp1.000/ekor/hari. Walau begitu ada selisih ADG 0,394 kg/hari. Bila harga sapi hidup dihargai Rp18.000/kg, maka diperoleh penambahan Rp7.092/hari. Penambahan pendapatan juga diperoleh dari selisih konsumsi pakan sebanyak 2 kg, atau sekitar Rp3.000. Dengan demikian, tambahan keuntungan per harinya sebesar Rp9.092. Kalau digemukkan selama 90 hari, berarti pendapatannya Rp818.280/ekor. Angka ini belum menghitung selisih karkas. Sedangkan dari hasil pengujian di LJP, karkas belum potong lemak dari sapi yang diberi perlakuan Sozo FM-4 sekitar 52%—55%. Kontrolnya sendiri berkisar 51%—53%. Anda masih belum yakin? “Terus terang, LJP pun termasuk perusahaan yang sulit untuk orang melakukan penelitian. Karena sebelumnya banyak orang yang berdagang dan mengiming-imingi ADG bisa naik 2—4 kg. Tapi ternyata hanya main-main,” aku Toni. Pihaknya mau melakukan penelitian Sozo karena ditantang apapun pihak Sozo mau. Waktu itu juga pihak Sozo tidak mengiming-imingi ADG akan naik sekian. Hanya disebutkan bau kotoran sapi akan menurun dan kualitas daging meningkat. “Setelah diteliti, ternyata dari bobot badan pun ada perbedaan antara yang diberi perlakuan dengan kontrol,” jelasnya. Kendati demikian, menurut Yudi, teknologi tersebut bisa diadopsi bila ketersediaan sumber pakan dapat teratasi lebih dulu. “Mengenai probiotik itu, kita harus mengadvokasi peternak yang tidak punya riset pakan. Kalau perlu difasilitasi pemerintah, lalu disosialisasikan kepada para peternak. Soalnya, improvement feedlot dalam teknologi pakan jauh lebih tinggi ketimbang peternak,” saran Yudi.

Tersedia Diskon hingga 40% pembelian diatas 21 Box (isi per box 24 botol).

Kontak:
Yani Murdani S, S.Si., Apt
08122428032
02270043560

yani.murdani@yahoo.com
Negara Asal:Indonesia
Harga:Rp. 35.000/ botol
Kemas & Pengiriman:Botol 10 ml


SISTEM PEMBIBITANTERNAK MENDUKUNG KETERSEDIAAN SAPI POTONG

By: Sutrisno
Pada tahun 1999 hingga 2001 pasokan daging sapi asal impor di Indonesia telah mencapai 15-22% dari kebutuhan daging sapi (Ditjend Bina Produksi Peternakan, 2002). Ketergantungan impor daging dan sapi potong, antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan memenuhi kebutuhan permintaan daging dari pemotongan sapi lokal yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan daging. Pemenuhan permintaan daging sapi bila hanya dipenuhi melalui pemotongan sapi lokal, maka dapat berakibat terjadi pengurasan populasi sapi lokal, karena terjadi pemotongan terhadap sapi muda yang ukurannya masih kecil dan terhadap sapi betina produktif. Kondisi ini sangat berbahaya jika kita mengacu pada keinginan pemerintah untuk berswasembada daging pada tahun 2010. Sapi potong lokal saat ini sangat beragam dan sebagian besar (99%) dikelola dan dikembangkan dengan pola peternakan rakyat (cow-calf operation) dalam skala usaha kecil dan terintegrasi dengan kegiatan lain, sehingga fungsi sapi potong sangat kompleks dalam menunjang kehidupan peternak (Gunawan, 2003).
Dalam sistem agribisnis berbasis peternakan tercakup empat subsistem, yaitu (1) subsistem agribisnis hulu peternakan yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak (industri pembibitan, industri pakan, industri obat - obatan), (2) subsistem usaha peternakan yakni kegiatan budidaya ternak, (3) sub-sistem agribisnis hilir peternakan yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan (industri pengolahan dan pemasaran) dan (4) subsistem jasa penunjang yakni kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa yang dibutuhkan oleh ketiga subsistem lain (Saragih, 2000).
Pada kenyataannya sub sektor tanaman pangan dan sub sektor peternakan merupakan satu kesatuan yang terintegrasi di mana keduanya tidak akan terlepas dan saling melengkapi di sub sektor tanaman pangan dan sub sektor peternakan pada khususnya dengan memberikan kesempatan yang luas kepada usaha kecil, menengah dan koperasi di bidang peternakan. khususnya petani peternak dimana mayoritas mereka mengandalkan tumpuan ekonominya pada sub sektor tanaman pangan dan sub sektor peternakan.
Investor hampir tidak ada yang tertarik untuk mengembangkan usaha cow-calf operation, karena diperlukan modal usaha yang besar, sedangkan bunga kredit tinggi, rantai pemasaran rumit, sarana transportasi dan pemilikan lahan terbatas. Menurut perhitungan ekonomis, saat ini usaha cow-calf operation juga memberikan net present value (NPV) negatif atau sangat kecil (Gunawan, 2003). Oleh karena itu, dalam agribisnis peternakan khususnya dalam penyediaan bibit sapi potong peran peternakan rakyat sangat dominan.
Usaha peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui pendekatan kuantitatif yaitu dengan peningkatan populasi ternak dan secara kualitatif dengan peningkatan produktivitas per unit ternak. Pengembangan Sistem Integrasi Padi - Ternak (SIPT) dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung upaya peningkatan kandungan bahan organik lahan pertanian melalui penyediaan pupuk organik yang memadai, untuk meningkatkan produktivitas padi sawah irigasi dan penyediaan daging, peningkatan populasi ternak sapi dan pendapatan petani. Pengembangan SIPT dilakukan dengan pendekatan kelembagaan kelompok tani (Haryanto et al., 2002).
Agribisnis peternakan juga terkait beberapa lembaga, antara lain lembaga produsen, lembaga konsumen, lembaga profesi, lembaga pemerintahan dan lembaga ekonomi (Handayani dan Priyanti, 1995). Lembaga - lembaga terkait akan berperan aktif dalam pembinaan, sehingga dapat mencapai satu sasaran yang sama yaitu sistem usaha agribisnis peternakan yang berkelanjutan, antara lain melalui pemanfaatan teknologi dan manajemen modern yang dilakukan dalam skala usaha yang lebih besar.
Program pengembangan kelompok peternak ini juga berhasil menunjukkan semangat dan minat berwirausaha, pengembangan kelompok ini berhasil mengembangkan kekuatan organisasi kelompok melalui program memisahkan ternak dari lingkungan tempat tinggal, dengan cara menempatkan ternak dalam kawasan kandang kelompok. Usaha berkelompok tersebut mempunyai dinamika yang bervariasi dari waktu kewaktu. Hal ini akan lebih bermanfaat jika dilakukan melalui pendekatan sistem integrasi ternak-padi (SIPT).
Pengkajian sistem pembibitan ternak sapi potong dilakukan melalui pendekatan kegiatan sistem integrasi padi - ternak (SIPT) telah beberapa kali dilakukan. Sistem pembibitan ternak sapi potong dengan pendekatan sistem integrasi padi - ternak telah mampu meningkatkan populasi ternak sapi potong. Pengelolaan usaha pembibitan ternak sapi potong secara berkelompok menunjukkan keberhasilan yang cukup memuaskan. Jaminan keberlanjutan pembibitan oleh peternak akan sangat menguntungkan pasokan ternak sebagai penyedia daging bagi masyarakat.
Dari sudut pandang peternak, pola integrasi padi-ternak ini dianggap cukup menguntungkan. Pola tanam padi-padi-palawija selama satu tahun menjamin ketersediaan limbah pertanian untuk mendukung pakan. Tingginya penggunaan lahan untuk pertanian sangat memungkinkan untuk penyediaan limbah pertanian sebagai sumber pakan untuk pengembangan ternak sapi.
Usaha pembibitan ternak sapi potong melalui sistem integrasi padi - ternak memberikan dampak pada : 1) Sistem pembibitan sapi potong dilakukan pada kawasan pengembangan yang terkonsentrasi, sehingga dapat dipetakan sesuai dengan dukungan dan potensi wilayah pengembangan. 2) Peningkatan populasi ternak sapi potong dapat dicapai tiga kali lipat selama 24 bulan dengan asumsi manajemen pembibitan induk bunting, kesiapan perangkat inseminasi (inseminator dan bibit), sumber daya manusia, sumber daya alam yang memadai dan dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang sinergi. 3) Pengelolaan permodalan dana APBN melalui sistem pemberdayaan kelembagaan petani dengan mekanisme revolving pada periode waktu tertentu dapat menjamin usaha pembibitan berjalan optimal. q – o

SERBA-SERBI PAKAN TERNAK

[u]1.SEJARAH SINGKAT[/u]
Ternak-ternak dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga/diambil hasilnya dengan cara mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Pakan yang sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan dan konsentrat (makanan penguat).

[u]2.PENYEDIA PAKAN TERNAK TAMBAHAN /MAKANAN KONSENTRAT (MAKO)[/u]
Selama ini produksi pakan ternak pada umumnya di dilakukan oleh pabrik pakan ternak sesuai dengan standard masing-masing. Mereka mempunyai beberapa jenis standard pakan, atau grade pakan ternaknya, yang sudah barang tentu dengan perbedaan harga yang di tawarkan sesuai dengan grade masing-masing.
Peternak kelas menengah dan kecil biasanya membeli Makanan Konsentrat (MAKO) tersebut sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Karena untuk membuat sendiri dalam jumlah sedikit, biaya dan waktunya menjadi tidak ekonomis.
Namun untuk pakan tambahan yang tidak memerlukan fabrikasi, para peternak bisa menyesuaikan dirinya masing-masing dengan ketersediaan bahan pakan tambahan atau alternatip yang tersedia di lingkungannya masing-masing pula

3.J E N I S
1)Hijauan Segar
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jeniskacang-kacangan.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a.Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.

b.Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.

c.Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.

2)Jerami dan hijauan kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).

3)Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.

4)Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral.

4.MANFAAT
1)Sumbernergi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi
dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d.Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput
setaria).

2) Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan
(daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

3) Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.
Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

5.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
5.1.Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

5.2.Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok.
Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.
Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).

a)Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan.
Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengancara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.

b)Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.

c)Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.

d)Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.

e)Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.

f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.

g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang
badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula:
Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75

h)Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

5.3.Kandungan Nutrisi Pakan Ternak
Setiap bahan pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.


5.4.Peralatan Pembuatan Pakan Ternak
1) Macam-Macam Silo
Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Beberapa silo yang sudah dikenal adalah:
a. Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.
b. Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.
c. Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.
d. Tower Silo: silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup
rapat.
e. Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.

2) Cara Memformulasi Pakan
Dalam memformulasikan penyusunan ransum atau pakan, perlu menggunakan Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dalam penyusunan ransum bagi sapi perah adalah sebagai berikut :
Sapi perah betina muda berat 350 kg, satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan), membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi sebagai berikut:
a. Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi :
Bahan Kering=6,4 Kg,
ME=13 Mcal,
Protein=570 gram,
Mineral=37 kg.

b.Laktasi I :
Bahan Kering=1,0 Kg, ME=2,02 Mcal, Protein=93,6 gram, Mineral=5 kg.

c.Sehingga jumlah Bahan Kering=7,4 kg, ME=15,02 kg, Protein=663,6 gram, Mineral=42 gram.

Dari kebutuhan nutrisi tersebut, kebutuhan pakannya dapat diformulasikan dengan suatu metode. Misalnya bahan-
bahan pakan yang tersedia adalah:
a.Rumput gajah: Bahan Kering=16%, ME=0,33 Mcal, Protein=1,8 gram%BK, Mineral=2,5 gram%BK
b.Rumput Kedele: Bahan Kering=93,5%, ME=3,44 Mcal, Protein=44,9 gram%BK, Mineral=6,3 gram%BK
c.Bungkil kelapa: Bahan Kering=86%, ME=2,86 Mcal, Protein=18,6 gram%BK, Mineral=5,5 gram%BK

Rumput gajah akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering sebanyak 80% = 80/100X7,4 kg = 5,92 kg BK.
Maka kandungan protein yang sudah dapat dipenuhi rumput adalah: sebanyak = 1,8/100 X 5,92 kg = 106,56 gram protein.
Kekurangan:
Bahan kering = 7,4 - 5,92 kg = 1,48 kg
Protein = (663,6 - 106,56) gram = 557,04 kg atau 557,04/1480 X 100% = 37,64%.

Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:19,04/26,3 X 1,48 kg = 1,07 kg BK.
Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 7,26/26,3 X 1,48 kg = 0,41 kg BK.
Jadi, jumlah bahan pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dengan kondisi tersebut di atas adalah:
Rumput gajah = 5,92 X 100/16 kg = 37 kg
Bungkil kedelai = 1,07 X 100/93,5 kg = 1,14 kg
Bungkil kelapa = 0,41 X 100/86 kg = 0,48 kg.

3) Teknologi Pakan
Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi produk yang berdaya guna.

Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak yang mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman yang semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya.

Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis dan tropis, akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tidak ekonomis dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya, terutama dalam penerapannya di tingkat peternak.

Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan di lapangan adalah:
a)Pembuatan Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumputrumputan/ leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air: 20-30%.
Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:
a) Metode Hamparan Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).

b)Metode Pod Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ±50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

b) Pembuatan Silase
Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan.

Prinsip utama pembuatan silase:
a) menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara.
c) menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni:
a) mempunyai tekstur segar
b) berwarna kehijau-hijauan
c) tidak berbau
d) disukai ternak
e) tidak berjamur
f) tidak menggumpal

Beberapa metode dalam pembuatan silase:
1. Metode Pemotongan
- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
- Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
- Tutup dengan plastik dan tanah

2.Metode Pencampuran
Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:
- asam organik: 4-6kg
- molases/tetes: 40kg
- garam : 30kg
- dedak padi: 40kg
- menir: 35kg
- onggok: 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.


3.Metode Pelayuan
- Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering
40% - 50%)
- Lakukan seperti metode pemotongan

c)Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).

d)Pakan Pemacu
Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.

1.Proses Pembuatan
Dilakukan dalam suasana hangat dan bertahap :
- Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat C.
- Buat campuran I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai 13%).
- Buat campuran II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).
- Buat campuran III (tepung tulang 5% dan mineral 1%).
- Buat campuran IV dari campuran I, II, III yang diaduk merata.
- Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dalam molases, diaduk hingga merata (±15 menit).
- Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan padatkan.
- Simpan di tempat teduh dan kering.

2.Kualitas Nutrisi
Hasil analisis proksimat, pakan pamacu yang dibuat dengan formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal, protein 24%, kalsium 2,83% dan fosfor 0,5%.

3.Jumlah dan Metode Pemberian
Pemberian pakan pamacu dapat meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter. Jumlah pemberian pakan pemacu disesuaikan dengan jenis dan berat badan ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat badan dan 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang digembalakan dan diberi sisa tanaman pangan seperti jerami atau bahan pakan berkadar protein rendah.

e)Pakan Penguat
Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
1.Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.

2.Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.
3.Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi atau metode grafik.

4.Prosedur Memformulasi
- Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga per unit protein.
- Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.
- Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
- Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral.
- Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).
- Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
- Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
- Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.


6.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1. Analisis Usaha Budidaya
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Pakan mengambil 70% dari total biaya produksi peternakan, sehingga tetap menjadi aktual untuk dijadikan suatu bisnis yang sangat cerah. Salah satu yang memungkinkan proses agroindutri yang akan menjadi peluang bisnis yang bagus yaitu mewujudkan industri pakan blok. Selain dari pada itu telah banyak dilakukan penelitian terapan dibidang pakan blok yang sangat mungkin dikembangkan

SERBA SERBI PAKAN TERNAK
[u]1.SEJARAH SINGKAT[/u]
Ternak-ternak dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga/diambil hasilnya dengan cara mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Pakan yang sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan dan konsentrat (makanan penguat).

[u]2.PENYEDIA PAKAN TERNAK TAMBAHAN /MAKANAN KONSENTRAT (MAKO)[/u]
Selama ini produksi pakan ternak pada umumnya di dilakukan oleh pabrik pakan ternak sesuai dengan standard masing-masing. Mereka mempunyai beberapa jenis standard pakan, atau grade pakan ternaknya, yang sudah barang tentu dengan perbedaan harga yang di tawarkan sesuai dengan grade masing-masing.
Peternak kelas menengah dan kecil biasanya membeli Makanan Konsentrat (MAKO) tersebut sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Karena untuk membuat sendiri dalam jumlah sedikit, biaya dan waktunya menjadi tidak ekonomis.
Namun untuk pakan tambahan yang tidak memerlukan fabrikasi, para peternak bisa menyesuaikan dirinya masing-masing dengan ketersediaan bahan pakan tambahan atau alternatip yang tersedia di lingkungannya masing-masing pula

3.J E N I S
1)Hijauan Segar
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jeniskacang-kacangan.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a.Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.

b.Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.

c.Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.

2)Jerami dan hijauan kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).

3)Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.

4)Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral.

4.MANFAAT
1)Sumbernergi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi
dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d.Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput
setaria).

2) Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan
(daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

3) Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.
Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

5.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
5.1.Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

5.2.Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok.
Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.
Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).

a)Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan.
Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengancara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.

b)Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.

c)Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.

d)Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.

e)Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.

f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.

g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang
badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula:
Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75

h)Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

5.3.Kandungan Nutrisi Pakan Ternak
Setiap bahan pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.


5.4.Peralatan Pembuatan Pakan Ternak
1) Macam-Macam Silo
Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Beberapa silo yang sudah dikenal adalah:
a. Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.
b. Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.
c. Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.
d. Tower Silo: silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup
rapat.
e. Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.

2) Cara Memformulasi Pakan
Dalam memformulasikan penyusunan ransum atau pakan, perlu menggunakan Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dalam penyusunan ransum bagi sapi perah adalah sebagai berikut :
Sapi perah betina muda berat 350 kg, satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan), membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi sebagai berikut:
a. Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi :
Bahan Kering=6,4 Kg,
ME=13 Mcal,
Protein=570 gram,
Mineral=37 kg.

b.Laktasi I :
Bahan Kering=1,0 Kg, ME=2,02 Mcal, Protein=93,6 gram, Mineral=5 kg.

c.Sehingga jumlah Bahan Kering=7,4 kg, ME=15,02 kg, Protein=663,6 gram, Mineral=42 gram.

Dari kebutuhan nutrisi tersebut, kebutuhan pakannya dapat diformulasikan dengan suatu metode. Misalnya bahan-
bahan pakan yang tersedia adalah:
a.Rumput gajah: Bahan Kering=16%, ME=0,33 Mcal, Protein=1,8 gram%BK, Mineral=2,5 gram%BK
b.Rumput Kedele: Bahan Kering=93,5%, ME=3,44 Mcal, Protein=44,9 gram%BK, Mineral=6,3 gram%BK
c.Bungkil kelapa: Bahan Kering=86%, ME=2,86 Mcal, Protein=18,6 gram%BK, Mineral=5,5 gram%BK

Rumput gajah akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering sebanyak 80% = 80/100X7,4 kg = 5,92 kg BK.
Maka kandungan protein yang sudah dapat dipenuhi rumput adalah: sebanyak = 1,8/100 X 5,92 kg = 106,56 gram protein.
Kekurangan:
Bahan kering = 7,4 - 5,92 kg = 1,48 kg
Protein = (663,6 - 106,56) gram = 557,04 kg atau 557,04/1480 X 100% = 37,64%.

Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:19,04/26,3 X 1,48 kg = 1,07 kg BK.
Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 7,26/26,3 X 1,48 kg = 0,41 kg BK.
Jadi, jumlah bahan pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dengan kondisi tersebut di atas adalah:
Rumput gajah = 5,92 X 100/16 kg = 37 kg
Bungkil kedelai = 1,07 X 100/93,5 kg = 1,14 kg
Bungkil kelapa = 0,41 X 100/86 kg = 0,48 kg.

3) Teknologi Pakan
Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi produk yang berdaya guna.

Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak yang mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman yang semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya.

Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis dan tropis, akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tidak ekonomis dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya, terutama dalam penerapannya di tingkat peternak.

Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan di lapangan adalah:
a)Pembuatan Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumputrumputan/ leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air: 20-30%.
Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:
a) Metode Hamparan Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).

b)Metode Pod Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ±50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

b) Pembuatan Silase
Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan.

Prinsip utama pembuatan silase:
a) menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara.
c) menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni:
a) mempunyai tekstur segar
b) berwarna kehijau-hijauan
c) tidak berbau
d) disukai ternak
e) tidak berjamur
f) tidak menggumpal

Beberapa metode dalam pembuatan silase:
1. Metode Pemotongan
- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
- Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
- Tutup dengan plastik dan tanah

2.Metode Pencampuran
Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:
- asam organik: 4-6kg
- molases/tetes: 40kg
- garam : 30kg
- dedak padi: 40kg
- menir: 35kg
- onggok: 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.


3.Metode Pelayuan
- Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering
40% - 50%)
- Lakukan seperti metode pemotongan

c)Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).

d)Pakan Pemacu
Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.

1.Proses Pembuatan
Dilakukan dalam suasana hangat dan bertahap :
- Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat C.
- Buat campuran I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai 13%).
- Buat campuran II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).
- Buat campuran III (tepung tulang 5% dan mineral 1%).
- Buat campuran IV dari campuran I, II, III yang diaduk merata.
- Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dalam molases, diaduk hingga merata (±15 menit).
- Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan padatkan.
- Simpan di tempat teduh dan kering.

2.Kualitas Nutrisi
Hasil analisis proksimat, pakan pamacu yang dibuat dengan formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal, protein 24%, kalsium 2,83% dan fosfor 0,5%.

3.Jumlah dan Metode Pemberian
Pemberian pakan pamacu dapat meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter. Jumlah pemberian pakan pemacu disesuaikan dengan jenis dan berat badan ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat badan dan 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang digembalakan dan diberi sisa tanaman pangan seperti jerami atau bahan pakan berkadar protein rendah.

e)Pakan Penguat
Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
1.Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.

2.Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.
3.Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi atau metode grafik.

4.Prosedur Memformulasi
- Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga per unit protein.
- Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.
- Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
- Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral.
- Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).
- Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
- Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
- Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.


6.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1. Analisis Usaha Budidaya
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Pakan mengambil 70% dari total biaya produksi peternakan, sehingga tetap menjadi aktual untuk dijadikan suatu bisnis yang sangat cerah. Salah satu yang memungkinkan proses agroindutri yang akan menjadi peluang bisnis yang bagus yaitu mewujudkan industri pakan blok. Selain dari pada itu telah banyak dilakukan penelitian terapan dibidang pakan blok yang sangat mungkin dikembangkan