Loading...

Rabu, 14 Januari 2009

ANALISA PENGGEMUKKAN SAPI BALI DENGAN INTRODUKSI PAKAN DAN PROBIOTIK DI SUBAK GUAMA DAN SUBAK DAWAN

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan perkapita penduduk telah menyebabkan meningkatnya permintaan dan konsumsi daging, termasuk daging sapi. Hal ini tampak jelas dari pertumbuhan jumlah sapi yang dipotong maupun daging sapi yang dikonsumsi secara nasional beberapa tahun terakhir(Anon 2004). Sementara disisi lain pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi masyarakat, sehingga berakibat adanya kelebihan permintaan (over demand) dibandingkan penyediaan (supply).
Dalam rangka menanggulangi masalah tersebut telah ditempuh upaya untuk mencukupi kebutuhan sapi dan daging sapi dengan cara antara lain mengimpor baik dalam bentuk induk sapi, sapi potong, daging sapi maupun semen untuk inseminasi buatan. Pemenuhan kebutuhan impor tersebut didominasi oleh kebutuhan akan sapi potong (Darmadja, SGND.1990).
Potensi pengembangan sapi potong untuk wilayah Propinsi Bali cukup besar, karena didukung oleh potensi pasar yang masih kekurangan akan daging sapi potong serta makin meningkatnya konsumsi daging sapi perkapita. Selain itu peluang pengembangan usaha ini didukung oleh terjadinya perkembangan harga daging sapi di Bali yang terjadi 10 tahun terakhir, dimana secara konsisten terjadi peningkatan harga sekitar 5,26 – 23,8% pertahun.
Secara geografis dan historis Bali merupakan daerah pengem¬bangan ternak sapi yang cukup potensial. Hal ini didukung oleh kondisi geografis Bali berdasarkan daerah iklimnya, merupakan daerah dengan 8 bulan musim hujan dan 4 bulan musim kering. Adapun rata-rata curah hujan antara 2500 – 3000 mm pertahun (daerah iklim B) terdapat di Bali Tengah; daerah dengan 7 bulan musim hujan dan 5 bulan dengan musim kering (daerah Iklim C) dengan rata-rata curah hujan 2000 – 2500 mm pertahun terdapat di Bali Barat; daerah dengan 6 bulan musim hujan dan 6 bulan musim kering (daerah Iklim D) dengan curah hujan antara1500 – 2000 mm pertahun terdapat di Bali Selatan dan Bali Barat; daerah dengan 5 bulan musim hujan dan 7 bulan musim kering (daerah iklim E) dengan curah hujan antara 1000 – 1500 mm pertahun terdapat di Bali Selatan dan Tenggara; sedangkan daerah dengan 4 bulan musim hujan dan 8 bulan musim kering (daerah Iklim F) dengan curah hujan antara 800-1300 mm pertahun terdapat di Bali Timur dan Bali Utara. Dengan demikian maka Bali Timur dan Bali Utara keadaan cuacanya lebih kering jika dibandingkan dengan Bali Barat, Tengah dan Selatan.
Komoditi pertanian lahan kering dapat berupa tanaman pangan, tanaman perkebunan dan ternak. Namun karena distribusi sumber alam yang tidak merata dan sumber daya manusia yang masih terbatas, maka produktivitas dan kelestarian lingkungan pertanian lahan kering belum menjadi optimal.
Dari 563.286 ha lahan di Bali 63,47% adalah untuk pertanian, 22,28% untuk lahan alam, 5,91% untuk pemukiman, 5,91 sebagai lahan kritis, 0,61% sebagai danau dan rawa dan 1,23% untuk lain-lain. Dari lahan untuk pertanian tersebut 17,25% untuk sawah, 20,05% untuk tegalan dan 26,17% untuk perkebunan. Dengan demikian maka pertanian lahan kering 3,68 kali lebih luas dari pertanian lahan basah.
Umumnya pada pertanian lahan kering, petani biasanya menanam palawija (jagung, kacang-kacangan dan ketela pohon) di waktu musim hujan. Setelah panen, lahan dibiarkan kosong dan ditumbuhi rumput lokal yang nilai gizinya tidak begitu tinggi untuk ternak. Meskipun ternak terutama sapi, selalu diintegrasikan dengan pertanian lahan kering ini namun tidak ada lahan khusus yang disediakan untuk menanam hijauan makanan ternak. Hanya pada galangan ditanam rumput gajah untuk makanan ternak di waktu musim hujan, sedangkan semak dan pohon untuk makanan ternak di waktu musim kering. Dengan persediaan hijauan yang terbatas ini, maka ternak ruminansia sering kekurangan hijauan makanan ternak, terutama pada waktu musim kering.
Kontribusi peternakan terhadap PDRB pertanian di Bali atas dasar harga berlaku adalah 77,57% sedangkan atas dasar harga konstan adalah 25,42% (Anonim, 2004)
Sementara itu untuk melihat keberhasilan suatu usaha perlu adanya suatu kajian usahatani. Usahatani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produk di bidang pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh. Selisih keduanya merupakan kegiatan bagi usahataninya. Karena dalam kegiatan usahataninya petani bertindak sebagai pengelola, pekerja dan sebagai penanam modal pada usahanya maka pendapatan ini digambarkan sebagai balas jasa dari kerjasama faktor-faktor produksi. Analisa pendapatan usahatani mempunyai kegunaan bagi petani, pemilik faktor produksi yaitu: (1) menggambarkan suatu kegiatan usaha sekarang; (2) menggambarkan keadan yang akan datang dari perencanaan atau kegiatan. Secara khusus analisa pendapatan dapat memberikan bantuan untuk mengukur tingkat keberhasilan usahataninya (Soeharjo, 1996).
Menurut Soedarsono (1973), bagi petani pendapatan merupakan pedoman untuk menilai apakah usaha keluarganya berhasil atau tidak. Biaya total produksi adalah biaya tetap total ditambah biaya variabel total. Semakin banyak output yang dihasilkan, semakin rendah biaya tetap untuk menghasilkan setiap satuan output. Jadi biaya tetap rata-rata cendrung menurun begitu kuantitas output bertambah. Sedangkan biaya variabel adalah biaya untuk penggunaan input yang tidak tetap. Semakin banyak memakai input variabel, maka setiap input ekstra menyumbang output semakin sedikit.
Sekartawi dkk (1986) mendefinisikan penerimaan tunai usahatani (farm receipt) sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pengeluaran tunai usahatani (farm payment) didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Demikian juga pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pokok. Penerimaan tunai dan pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup yang berbentuk benda. Jadi, nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani, dan nilai kerja yang dibayarkan dengan benda tidak dihitung sebagai pengeluaran tunai usahatani. Selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani (farm net cash flow) dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Desa Dawan Kabupaten Klungkung dan Desa Guama Kabupaten Tabanan pada Tahun 2004. Dengan melibatkan 40 ekor ternak dengan rincian 20 ekor di Subak Guama, Tabanan dan 20 ekor di Subak Dawan, Klungkung. Rata- rata kepemilikan ternak sapi di kedua darah tersebut sebanyak 2 ekor/kk. Teknologi yang diberikan adalah pakan tambahan berupa complete feed 2 kg + 5 ml Biocas per ekor + HMT (jerami fermentasi + hijauan). Penelitian dilakukan selama 6 bulan, untuk mengetahui pengaruh perlakukan dilakukan penimbangan berat badan dengan penimbangan setiap bulan sekali.
Parameter yang diamati adalah hasil, keuntungan usahatani, R/C ratio untuk melihat kelayakan usaha.
1. Untuk mengetahui pendapatan bersih usaha pengembangan ternak sapi dengan teknologi pakan dan probiotik dapat digunakan rumus sebagai berikut :
NR = TR – TC
NR = Py. Y – (Px.X + TFC)
Keterangan :
NR = Net Revenue (pendapatan bersih)
TR = Total Revenue (pendapatan total)
TFC = Total Fixed Cost (total biaya tetap)
TC = Total Cost (biaya total)
X = Input
Py = Harga output
Y = Output
Px = Harga input
2. Gros R/C rasio, yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut (Adnyana, 1995).

Gross B/C =

Keterangan :
P = Produksi
H = Harga Produksi
B = Total Biaya
Analisis kelayakan usaha penggemukan sapi digunakan untuk melihat tingkat pengembalian atas biaya usaha tani yang telah dikeluarkan untuk menerapkan teknologi introduksi. Apabila Gross B/C > 1, maka usaha tani dianggap layak secara finansial, karena keuntungan bersih masih lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknologi introduksi yang diterapkan pada penggemukan sapi dalam penelitian ini adalah pemberian 2 kg complete feed + 5 ml Biocas per ekor per hari. Complete feed merupakan pakan komplit yang disediakan dipasaran yang merupakan pakan komersial yang telah mengandung nutrisi yang lengkap.
Sedangkan Biocas merupakan probiotik yang mengandung berbagai mikroba pemecah serat seperti selulolitik, lipolitik, dan lain-lainnya yang diharapkan dapat membantu ternak dalam mencerna serat kasar seperti jerami dan pakan hijauan lainnya sehingga mampu dijadikan bahan-bahan yang lebih bermanfaat. Penggemukan di subak Dawan dengan pemberian pakan tambahan berupa complete feed dan probiotik Biocas memperoleh peningkatan berat badan harian mencapai 0,41 kg per ekor per hari dengan berat awal pemeliharaan 174 kg/ekor.
Tabel 1. Peningkatan rata-rata berat badan/hari, berat badan awal, berat badan akhir pada pola penggemukan sapi kereman di subak Dawan Klungkung dan Subak Guama Tabanan.
Manajemen Berat badan awal (kg) Berat badan akhir (kg) Rata-rata pertambahan Berat badan per hari (kg)
Tek. Rekomendasi 253 366 0,63
Subak Dawan 179 216 0,41
Subak Guama 264 320 0,62

Ket: Teknologi Penelitian : HMT (Hijauan + Jerami Fermentasi) + 2 kg complete feed + 5 ml Biocas per ekor per hari

Sedangkan bagi sapi yang digemukkan di subak Guama mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian mencapai 0,62 kg/ekor/hari dengan berat awal pemeliharaan adalah 264 kg/ekor. Pemberian complete feed yang merupakan pakan jadi memiliki susunan ransum yang komposisinya telah disesuaikan dengan kebutuhan ternak khususnya sapi (ruminansia), dan akhirnya lebih mudah dicerna oleh tubuh ternak sehingga mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin (Suyasa, dkk. 2004). Sedangkan pemberian Biocas yang merupakan kumpulan mikroba pemecah serat akan membantu mikroba yang telah berada di lambung ternak untuk mencerna serat-serat yang dimakan ternak menjadi bahan-bahan yang siap diserap oleh tubuh sehingga lebih banyak yang dapat dimanfaatkan. Antara sapi penggemukan yang dipelihara di Subak Guama dengan sapi penggemukan di subak Dawan diberikan jenis pakan dan probiotik yang sama namun menghasilkan pertambahan berat badan harian yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh berat badan awal pemeliharaan yang berbeda dimana sapi-sapi yang dipelihara disubak Guama memiliki berat badan awal pemeliharaan 264 kg/ekor sedangkan sapi-sapi yang dipelihara di subak Dawan hanya memiliki berat badan awal rata-rata 174 kg/ekor. Menurut Suyasa, dkk. (1997) dan Widiyazid, dkk. (1998), pertumbuhan sapi penggemukan adalah seperti sigmoid, dimana semakin besar berat awal yang dimiliki maka akan semakin cepat pertumbuhannya. Pertambahan berat badan harian yang dicapai di subak Guama masih lebih rendah bila dibandingkan dengan yang direkomendasikan yang mencapai 0,63 kg/ekor/hari. Selain pakan tambahan variasai pakan utama juga dapat menentukan hal ini. Dengan pemberian HMT (berupa rumput 70% + leguminosae 30%) dengan pakan tambahan 2 kg dedak dan 10 cc probiotik Bioplus mampu meningkatkan berat badan harian 0,68 kg/ekor/hari (Suyasa, dkk. 1999).
Selama ini sapi dengan berat sekitar 174 kg/ekor masih dikategorikan sebagai bibit, sehingga belum layak dipakai sebagai bakalan untuk digemukkan karena masih dalam masa pertumbuhan. Sapi-sapi yang termasuk dalam kategori bakalan untuk digemukkan adalah sapi-sapi yang telah dewasa atau berakhir masa pertumbuhannya sehingga kalau dipelihara hanya akan bertambah besar/gemuk. Peningkatan yang dicapai pada sapi-sapi yang digemukkan baik di subak Dawan maupun Guama yang mencapai 0,41 kg/ekor/hari dan 0,62 kg/ekor/hari masih jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh masyarakat selama ini. Sapi-sapi yang dipelihara oleh petani biasanya hanya diberikan pakan tradisional saja dengan pakan tambahan seadanya, sehingga dalam setahun baru mampu menjual ternaknya dengan pertambahan berat badan dalam setahun + 100 kg/ekor. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pertambahan berat badan harian yang dicapai pada sapi-sapi kereman yang dipelihara dengan pola petani masih sangat rendah. Hasil ini juga menunjukkan bahwa teknologi penggemukan yang diterapkan di subak Dawan dan Guama telah mampu dilaksanakan dan disebarkan sehingga diminati oleh sebagian besar anggota subak yang lain.
Sedangkan untuk Analisa Usaha taninya, dalam penelitian ini untuk pemeliharaan 2 ekor ternak yang digemukkan membutuhkan biaya selama pemeliharaan (6 bulan) Rp 752.400,- untuk membiayai pakan tambahan dan probiotik. Sedangkan untuk membiayai tenaga kerja dibutuhkan Rp 885.000,- selama 6 bulan. Nilai bibit sapi di Subak Guama Rp 6.336.000,- sedangkan di Dawan hanya Rp 3.938.000,- perbedaan ini disebabkan karena berat badan awal yang berbeda sehingga harga beli juga berbeda (Tabel 2).
Tabel 2. Tingkat Keuntungan dan B/C ratio usahatani ternak sapi kereman di Subak Guama dan Dawan per 2 ekor ternak
Uraaian Subak Guama Subak Dawan
Unit (ekor) 2 2
Harga/kg (Rp), jual 14.200 13.000
Berat Awal Ternak, kg/ekor 264 179
Berat Badan jual (kg/ekor) 375,6 252,8
Penjualan pupuk Kompos (Rp) 504.000 504.000
Penerimaan kotor per (Rp) 11.171.040 7.076.800
Biaya input produksi (Rp) 752.400 752.400
Biaya tenaga Kerja (Rp) 885.000 885.000
Nilai Bibit Awal (Rp) 6.336.000 3.938.000
Keuntungan riil (Rp) 3.197.640 1.501.400
Total biaya/ 2 ekor (Rp) 7.973.400 5.575.400
Keuntungan setahun ( dengan pemeliharaan 2 ekor/6 bulan sehingga dalam setahun 4 ekor) (Rp) 6.395.280 3.002.800
B/C Ratio 1,40 1,27
Penerimaan per hari/2 ekor (Rp) 17.764 8.341
Dalam hal ini berlaku harga pasar yang menganut aturan semakin berat ternak tersebut harga per satuan berat semakin mahal. Dengan harga jual tersebut maka keuntungan yang diperoleh sapi yang dipelihara di Guama adalah Rp 2.693.640,- untuk 2 ekor ternak dalam jangka waktu 6 bulan sehingga B/C ratio yang dicapai 0,33. (Tabel 2). Sedangkan sapi kereman yang dipelihara di subak Dawan hanya memperoleh keuntungan Rp. 997.400,- untuk 2 ekor ternak per 6 bulan dengan B/C ratio 0,17. Keuntungan yang dicapai di Guama per hari per 2 ekor adalah Rp 14.964,- sedangkan di dawan hanya mencapai Rp. 5.541,-. Dalam setahun di Guama mampu dipelihara 4 ekor dengan keuntunga mencapai Rp. 5.387.280,- sedangkan di Dawan dalam setahun hanya memperoleh keuntungan Rp. 1.994.800,- Namun demikian keuntungan lain yang dapat diperoleh oleh petani dalam pemeliharaan ternak ini adalah kotorannya yang dapat dipakai sebagai pupuk. Sehingga dalam mengelola usaha taninya tidak lagi berpikir untuk membeli kompos untuk tanamannya.
KESIMPULAN
1 Pemberian pakan tambahan berupa Complete feed dan Biocas pada pakan ternak yang digemukkan di subak Guama dan Dawan mampu memberikan peningkatan berat badan harian 0,62 dan 0,41 kg/ekor/hari, sehingga bobot akhir mencapai 375,6 dan 252,8.kg/ekor.
2 Dalam pelaksanaan penelitian ini untuk usatani ternak diperoleh keuntungan mencapai Rp. 6.395.280 dan Rp. 3.002.800,- dengan B/C ratio 1,40 dan 1,27 masing-masing untuk subak Guama dan Dawan

Tidak ada komentar: