Loading...

Selasa, 10 Februari 2009

BENARKAH PENYAKIT SAPI GILA MENULAR PADA MANUSIA ?

Oleh :
Dr. H. Santoso Soeroso,SpA(K),MARS
RS. Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
Jakarta
Penyakit sapi gila (Bovine Spongiform encephalopathy/BSE) adalah penyakit yang disebabkan oleh bahan infeksius yang baru dikenal dan disebut prion. BSE menyerang sapi dan tanda-tanda BSE itulah yang baru-baru ini ditemukan pada seekor sapi di Washington, Amerika Serikat sehingga menyebabkan kepanikan di seluruh dunia.
Mengapa kepanikan itu muncul ? Karena Amerika Serikat adalah produsen besar daging sapi dan turunannya dan diduga prion yang menyebabkan BSE , dapat menular kepada manusia dan menyebabkan penyakit yang dalam istilah kedokteran disebut Subacute Spongiform Encephalopathy (SSE).

Prion
Dunia kesehatan selalu dihadapkan pada fenomena baru setiap kali ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mengungkapkan sesuatu yang baru. Prion protein (PrP) atau biasa disebut prion adalah sejenis protein yang diperoleh dari jaringan otak binatang yang terkena penyakit radang otak yang tidak diketahui sebabnya yang disebut bovine spongiform encephalopathy. Prion bukan benda hidup yang lengkap layaknya bakteri, virus ataupun protozoa. Prion dapat dibedakan dari virus atau viroid karena tidak memiliki asam nukleat dan oleh karenanya dia tahan terhadap semua prosedur yang bertujuan mengubah atau menghidrolisa asam nukleat termasuk ensim protease ,sinar ultraviolet, radiasi dan berbagai zat kimia seperti deterjen, zat yang menimbulkan denaturasi protein seperti obat disinfektan atau pemanasan/perebusan. Namun yang mengherankan prion memiliki kemampuan memperbanyak diri melalui mekanisme yang hingga saat ini belum diketahui. Prion sampai sekarang dianggap sebagai benda yang bertanggung jawab terhadap kejadian ensefalopati pada penyakit sapi gila (BSE), Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) , Gerstmann-Straussler Syndrome dan penyakit Kuru sejenis penyakit kelumpuhan yang timbul pada keluarga tertentu . Semuanya memiliki gejala yang sama yaitu jaringan otaknya mengalami degenerasi menjadi benda yang berlubang ? lubang kecil seperti layaknya karet busa atau spons dan oleh karena itu disebut sebagai spongiform encephalopathy, keadaan itu sejalan dengan gangguan pergerakan anggota tubuh/kelumpuhan yang terjadi yang semakin lama semakin berat dan akhirnya menimbulkan kematian..
Sebenarnya, struktur gene Prion telah ditemukan , dan diketahui pula bahwa pada binatang yang terinfeksi maupun pada percobaan inokulasi prion maka akan terjadi penumpukan prion pada jaringan otak . Prion diduga menyebar melalui dan di dalam jaringan saraf . Kesenjangan pengetahuan tentang biologi molekuler prion dan patogenesis penyakit yang disebabkannya, sampai sekarang masih besar dan secara intensif sedang dilakukan penelitian untuk memperkecil kesejangan itu .

Creutzfeldt-Jakob Disease dan varian CJD
Gejala CJD diawali perlahan-lahan dengan munculnya kebingungan, kemudian timbul kepikunan yang progresif , lalu timbul kesulitan berjalan.serta gemetaran . Selanjutnya penyakit menyerang dengan cepat dan kematian biasanya terjadi dalam 3 ? 12 bulan, dengan rata-rata 7 bulan.
Penyakit CJD telah dilaporkan oleh berbagai negara di dunia, antara lain Amerika Serikat, Chili, Slovakia dan Israel. Tetapi pada pertengahan tahun 1999 telah dilaporkan lebih dari 40 kasus mirip CJD yang dikenal sebagai variant Creutzfeldt-Jakob Disease (vCJD) dan hampir semua kasus berasal dari Inggris , negara dimana dalam 10 tahun sebelumnya terjadi wabah BSE yang menimpa ribuan sapi. Keprihatinan yang timbul disebabkan kemungkinan penularan CJD karena mengkonsumsi daging sapi yang terkena infeksi prion menyebabkan dilakukannya penelitian epidemiologi secara besar-besaran . Hasil penelitian sampai saat ini menyatakan bahwa varian baru CJD mungkin memang ada. Penyakit itu yang dikenal cebagai vCJD , dilaporkan muncul di Inggris dan beberapa negara Eropa. Akan tetapi sebenarnya CJD dan vCJD adalah dua hal yang berbeda, karena tidak seperti CJD yang menyerang orang-orang usia lanjut (60 ? 80 tahun, dan lebih dari 99% menyerang umur lebih dari 35 tahun) , vCJD menyerang anak muda (20-30 tahun), di samping itu hasil pemeriksaan elektroensefalografipun berbeda, dan perjalanan penyakit vCJD lebih panjang daripada CJD. Varian CJD berlangsung 12 ? 15 bulan sedangkan CJD hanya 3 ? 6 bulan. Dalam eksperimen pada otak tikus, ternyata otak sapi yang sakit dapat menularkan penyakit spongiform encephalopathy yang sama pada tikus. Meskipun demikian belum tentu BSE merupakan penyebab vCJD. Karena meskipun penyakit itu serupa namun banyak perbedaan yang jelas yang mendukung bahwa mungkin vCJD hanyalah suatu varian dari CJD yang ditemukan setelah dilakukan penelitian epidemiologi besar-besaran sehubungan dengan dugaan kemungkinan BSE sebagai penyebab CJD.

Pengendalian infeksi
Prion dikenal menyebabkan penyakit pada binatang yaitu penyakit sapi gila, scrapie pada domba dan kambing, serta ensefalopati yang ditularkan pada minks, dan pada kijang Empat prion diketahui menyebabkan penyakit neurodegeneratif yang ditularkan.(transmissible neuro degenerative disease) pada manusia yaitu CJD , Gertsmann-Scheinker Syndrome, penyakit Kuru dan fatal familial insomnia. Seperti telah dibicarakan dimuka, pada tahun 1999 suatu varian baru CJD (vCJD) muncul dan dikaitkan keberadaannya dengan penyakit sapi gila. Meskipun demikian sampai sekarang belum ada bukti yang terdokumentasi bahwa infeksi prion pada manusia terjadi akibat penularan prion dari binatang. Sampai sekarang hanya manusia yang diyakini sebagai reservoir Creutzfeldt-Jakob Disease. Dalam catatan kepustakaan, penularan CJD dari manusia ke manusia dapat terjadi pada penggunaan alat yang tidak steril dari prion, misalnya pernah dilaporkan pada operasi transplantasi kornea mata, dan penggunaan elektroda perak pada stereotaktik elektroensefalografi . Di dalam penelitian di laboratorium, jaringan otak, cairan otak dan sumsum tulang belakang yang mengandung prion akan terus menularkan penyakit tersebut apabila diberikan kepada primata dan hewan lainnya.
Penularan prion yang terkait CJD sampai sekarang masih sulit dikontrol melalui sterilisasi karena sifatnya yang tahan terhadap cara-cara sterilisasi biasa termasuk merebus dalam air sampai mendidih, memberikan radiasi ultraviolet, radiasi pengion, alkohol 70%, dan formalin 10%.

Sapi Gila Tak Pengaruhi Penjualan Sapi Untuk Kurban

JAKARTA--MIOL: Penyakit sapi gila yang akhir-akhir ini menjadi isu nasional tak mempengaruhi penjualan sapi sebagai hewan kurban, bahkan para pedagang mengaku mengalami peningkatan penjualan sapi hingga 10-20 persen.
"Menjelang Idul Adha tahun ini, penjualan sapi kami meningkat cukup baik dibanding Idul Adha tahun kemarin sebesar 10 hingga 20 persen," kata seorang penjual hewan kurban jenis sapi Bima yang mangkal di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Muhdar Dena yang ditemui ANTARA, Jumat. Guru SLTP yang menggunakan kesempatan Idul Adha untuk berdagang sapi itu mengatakan, dari 100 sapi yang dijual sejak seminggu yang lalu, sekitar 60 sapi sudah terjual, padahal tahun-tahun lalu pihaknya hanya bisa menjual 50 ekor sampai malam menjelang Idul Adha. Pihaknya, ujar dia, juga menjual kerbau yang karena lebih berat dan besar harganya lebih mahal, kalau sapi yang memiliki berat 400kg dijual Rp5 juta dan yang 200kg dijual Rp3 juta, maka kerbau dengan berat 450kg dijual Rp 7,6 juta. Ia mengatakan, dari hasil penjualan hewan kurban sapi dan kerbau tersebut ia dapat memperoleh keuntungan hingga Rp100-150 ribu per ekor setelah dikurangi ongkos kirim dan pakan sapi. Sementara itu pedagang sapi Bali, Suparno, juga mengalami hal sama yang penjualannya meningkat hingga 10-20 persen. Tahun lalu dia hanya menjual 50 ekor, sekarang bisa sampai 50 ekor lebih, katanya. Sapi Bali harganya lebih mahal dibanding sapi Bima karena lebih besar. Harga sapi Bali bisa mencapai sekitar Rp9 juta disbanding sapi Bima yang harganya sekitar Rp.5 juta.
Kambing, Selain penjualan sapi yang meningkat, penjualan kambing dan domba juga naik.
Taufik, pedagang hewan kurban jenis kambing dan domba di tempat yang sama, mengatakan, pada Idul Adha tahun ini penjualan hewan kurbannya juga meningkat 10-20 persen dibanding tahun lalu.
Menurut dia, peningkatan itu terjadi karena tahun lalu musim hujan terus-menerus sehingga minat pembelipun berkurang. Ia mengatakan, harga kambing dan domba bervariasi tergantung beratnya, untuk kambing seberat 15-20kg dijual Rp500 ribu, sedangkan untuk domba seberat 30-35kg harganya berkisar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.
"Tetapi ada juga pembeli yang tidak peduli dengan berat asalkan kambing tersebut terlihat mulus dan cantik, maka orang akan memilihnya meskipun beratnya kurang, malah kambing yang seperti itu bisa lebih mahal," katanya.
Sementara itu di luar lokasi penjualan hewan kurban harga daging di pasar relatif stabil tidak ada penurunan dan kenaikan, yakni Rp40 ribu per kg.
"Dua hari sebelum Idul Adha harga daging tetap pada harga biasa, justru setelah Lebaran Haji nanti daging biasanya jadi lebih mahal," kata Wita seorang pedagang daging di Pasar Minggu. Wita menambahkan, justru penjualan ayam yang mengalami penurunan dengan adanya isu flu burung. Penurunan itu, menurut dia, mencapai 30-40 persen. (Ant/Ol-01)

Pembeli Tanyakan Soal Kondisi Kesehatan Sapi

Medan-RoL-- Meskipun hingga kini di wilayah Sumatera Utara tidak ditemukan penyakit kuku mulut dan sapi gila namun mayoritas umat Islam yang akan membeli hewan korban menanyakan soal kondisi kesehatan sapi dan kambing sebelum binatang tersebut dibeli untuk keperluan korban.
Berdasarkan pantauan LKBN ANTARA, Selasa, di sejumlah pusat perdagangan hewan korban di JL. A.H Nasution Medan mayoritas pembeli sapi dan kambing memeriksa kondisi hewan yang akan diperuntukan bagi keperluan korban saat Idul Adha pada Minggu (1/2). Para pembeli terlebih dahulu memeriksanya dengan membuka mulut kambing kendati pedagang sapi dan kambing telah menyatakan bahwa hewan yang dijualnya itu terbebas dari penyakit hewan seperti kuku dan mulut serta sapi gila tapi sebagian pembeli masih belum percaya atas jaminan itu.
"Terpenting memeriksa kondisi fisik hewan yang akan kita beli guna menghindari kemungkinan hewan terkena penyakit,"tegas Ny. Hartatik dan Salam warga Medan yang mendatangi lokasi penjualan hewan tersebut di seputar Asrama Haji Medan. Hewan tersebut menurut para pedagang juga sudah diperiksa petugas dari Dinas Peternakan Sumut dan dinyatakan sehat untuk diperdagangkan kepada masyarakat. Para pedagang hewan itu mengaku aktivitas perdagangan sapi dan kambing untuk keperluan Idul Adha 1424 H sekarang ini masih sepi diperkirakan baru akan ramai tiga atau dua hari menjelang perayaan hari raya haji. Harga sapi dan kambing, kata para pedagang menjelang Idul Adha 1424 H mengalami kenaikan meskipun demikian pembeli masih sepi, harga sapi bisa mencapai jutaan rupiah sementara kambing minimal Rp600.000,- per ekor. Hewan tersebut kebanyakan didatangkan dari luar kota Medan seperti Binjai bahkan ada yang berasal dari propinsi Nangroe Aceh Darussalam ( NAD ).
Mereka belum bisa memprediksikan mengenai peluang bisnis sapi dan kambing untuk keperluan korban namun mereka optimis bahkan pembeli bakal ramai tiga hari menjelang Idul Adha. ant/abi

Serangan Sapi Gila dan Flu Burung Diharapkan Dongkrak Pasar Udang

Surabaya-RoL-- Serangan sapi gila (mad cow ) dan flu burung yang menyerang sejumlah negara diharapkan akan bisa mendongkrak pemasaran udang yang sempat terpuruk akibat diberlakukannya antidumping terhadap komoditi tersebut, utamanya untuk pasar Amerika Serikat (AS).
"Mudah-mudahan peluang ini bisa ditangkap para pelaku usaha dengan baik sehingga volume maupun nilainya meningkat," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Coldstorage Indonesia (APCI) Jatim, Johan Suryadarma, di Surabaya, Senin(26/1). Serangan sapi gila telah berdampak terhadap pasar daging sapi dunia. Selang beberapa saat kemudian muncul adanya serangan flu burung yang mempengaruhi pasar daging ayam.
Dalam kondisi seperti itu, pemasaran udang dari Jatim maupun Indonesia diharapkan bisa meningkat, meskipun sebelumnya komoditi itu sempat terkena aturan antidumping di AS dan isu mengandung antibiotik (chloraphinicol) di pasar Jepang. "Udang kita sejak Juli 2003 sudah lolos dari antidumping. Mudah-mudahan ekspor kita ke AS dan Eropa meningkat antara 10-15 persen," ucapnya. Sedangkan untuk ekspor ke Jepang, ia mengakui, produk udang Jatim kemungkinan akan masih menghadapi kendala psikologis setelah udang dari Cina yang diekspor ke Jepang diduga mengandung antibiotik, kendati udang Indonesia sudah dinyatakan bebas dari kandungan itu.
Johan berharap peluang tersebut didukung dengan kondisi politik dan keamanan yang kondusif pada saat pelaksanaan Pemilu sehingga para petambak, pengusaha coldstorage dan yang terkait lainnya bisa meningkatkan kinerjanya.
Proses produksi diharapkan menggunakan zat-zat yang ramah lingkungan. Jika terpaksa menggunakan zat-zat kimia harus dibawah batas yang diminta pasar. Sementara itu, harga udang Jatim pada akhir 2003 sempat terpuruk hingga mencapai Rp15 ribu kilogram.
Namun, pasar udang saat ini sudah mulai menghangat sehingga harga udang mulai naik hingga mencapai Rp20 ribu per kilogram (ukuran 70). Udang yang kini banyak dibudidayakan di Jatim diantaranya jenis udang windu (Black Tiger), Vanamae dan Mexican White (Stylirostris). Produktivitas udang windu saat ini sekitar dua ton per petak, sedangkan jenis lainnya mencapai 10 ton per petak. Ant/fif

Peternak di Bengkulu Diminta Waspada Terhadap Sapi Gila

Bengkulu- Rol --Para peternak dan masyarakat di Bengkulu diminta waspada terhadap penyakit sapi gila (bovine spongifarm encephal poathy--BSE), yang kini menjangkiti ternak sapi di berbagai negara.
"Penyakit tersebut sangat berbahaya, jadi kita minta agar peternak, pedagang daging dan masyarakat selalu waspada dan kalau melihat kelainan pada sapi atau dagingnya segera melaporkannya," kata Kapala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu, drh. Daryanto di Bengkulu, Jumat.
Guna mencegah berjangkitnya virus sapi gila itu, dalam waktu dekat akan dilakukan sosialisasi dengan mengundang para peternak, pedagang dan masyarakat. Ia mengku, di Bengkulu belum ditemukan adanya sapi yang mengindap penyakit BSE itu, namun perlu dilakukan tindakan pencegahan mengingat penyakit itu dapat menular pada manusia yang mengkonsumi daging sapi itu. Menurutnya, ada beberpa gejala klinis yang perlu diwaspadai khususnya oleh para peternak terhadap sapi yang mengindap penyakit BSE yakni berat badan menurun, produksi susu turun, namun selera makannya tetap. Selain itu, pada mental sapi itu juga terjadi perubahan seperti selalu ketakutan, gelisah, mudah terkejut, tidak dapat bangun jika terjatuh.
Ia menjelaskan, kemungkinan masuknya penyakit sapi gila ke Bengkulu relatif kecil, mengingat daerah itu tidak mendatangkan daging dari daerah atau negara lain. "Memang kemungkinan masuknya penyakit sapi gila ke Bengkulu relatif kecil, tapi kita herus tetap waspada," katanya.ant/mim

Meski Terancam SAPI GILA, Restoran AS Nekat Sajikan OTAK SAPI!

Ketakutan akan penyakit sapi gila menyusul ditemukannya kasus sapi gila di Washington, 23 Desember 2003, tak membuat Cecelia Coan takut menyantap hidangan favoritnya: sandwich otak sapi!
Coan malah lebih takut kena kolesterol yang membahayakan jantungnya ketimbang penyakit sapi gila. ?Aku malah takut menderita penyumbatan pembuluh darah,? kata wanita berusia 40 tahun ini. Ia selalu pergi makan siang di restoran Hilltop Inn untuk mendapatkan sandwich kesukaannya.
?Uh, rasanya lebih enak dari siput, sushi atau hidangan lezat lainnya,? kata Coan.
Otak sapi di restoran ini dicampur dengan adonan telur, bumbu dan tepung. Setelah digoreng dalam minyak goreng yang banyak sekali, otak sapi ini akan menggembung seperti martabak. Hmm, enaknya, dimakan panas-panas.
Hidangan khas otak sapi ini sampai ke Amerika dibawa para pendatang dari Jerman dan Belanda. Sejumlah keluarga memiliki resep rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi. ?Kasus sapi gila sama sekali tak membuat kami ketakutan,? kata Coan, yang bekerja sebagai kasir di sebuah bank. Ia suka menyantap otak sapi yang dihidangkan dengan mustard dan acar bawang.
?Bagaimana pun juga kita semua akan mati. Kalau tidak meninggal dengan bahagia ya menyedihkan,? tambahnya cuek.
Hidangan otak sapi biasanya disajikan di restoran Jerman yang dikelolala secara turun temurun seperti Hilltop Inn. Restoran di Ohio Rivercity ini sudah buka sejak tahun 1837.
Satu-satunya cara menghentikan pola makan penggemar fanatik masakan otak sapi ini adalah menghentikan persediaan otak sapi di pasaran. Departemen Pertanian AS kabarnya akan mengeluarkan peraturan baru yang melarang penjualan otak ternak selama 3 tahun atau lebih lama lagi.
Larangan selama 3 tahun atau lebih ini, diberlakukan mengingat penyakit sapi gila memiliki karakteristik dengan masa inkubasi yang panjang hingga beberapa tahun. Inkubasi pada sapi berlangsung antara tiga tahun hingga delapan tahun.
Tetapi sejumlah penyelia daging sapi di Indiana seperti Dewig Brothers Meats, sudah menghentikan sama sekali penjualan otak sapi kepada konsumen. Sejak buka tahun 1916, mereka menjual otak sapi kepada perorangan atau restoran dengan harga 1,5-2 dolar AS setiap pon. Larangan penjualan otak sapi ini kemungkinan besar akan mengalihkan perhatian konsumen ke hidangan otak babi. Tetapi, mereka kurang begitu menyukainya karena ukurannya lebih kecil dan rasanya kalah lezat ketimbang otak sapi.
?Kalau otak sapi rasanya benar-benar menyatu dengan adonan bumbunya,? kata Dewig. Kegemaran makan otak sapi ini tak terbatas di Indiana. Di California, seperti di kota Stockton, otak sapi diramu dengan taco, dan dijual menggunakan truk keliling. Mereka menyebutnya dengan nama Spanyol, ?sesos?.
Di kota-kota perbatasan Texas, ada masakan khas dari kepala sapi dan otak sapi yang disebut ?barbacoa?. Biasanya dihidangkan selama liburan.
Penelitian mengungkapkan penyebab penyakit sapi gila adalah ketidaknormalan struktur molekul prion (PrP). Prion adalah molekul protein dengan bobot molekul 25 kDA dan tersusun atas sekitar 230 residu asam amino. Prion ini sangat tahan terhadap segala macam tingkat keasaman (pH), juga terhadap pendinginan atau pembekuan. Protein ini baru inaktif setelah dipanaskan dengan dengan otoklaf (alat pemanas dengan tekanan tinggi) pada suhu 134-138 derajat Celcius selama 18 menit.
?Otak sapi harus dimasak dengan suhu 1200 derajat untuk mematikan prionnya. Itu artinya dua kali lebih tinggi dari suhu ketika ketika kita menggoreng otak sapi dengan cara biasa,? kata Derrer dari Indiana?s Animal Health Board.
Agaknya butuh lebih dari satu kasus sapi gila untuk bisa menghentikan orang-orang seperti Nick Morrow (45) yang sudah menggemari sandwich otak sapi sejak anak-anak. ?Penyakit sapi gila sama sekali jauh dari pikiranku.?
?Apalagi aku belum menang lotere, untuk apa memikirkan penyakit ini,? katanya bergurau sambil menikmati otak sapi panas yang terhidang dihadapannya. (zrp/AP)

Tidak ada komentar: