Rabu, 27 Mei 2009

Petunjuk Teknis Teknologi Inovasi Pakan Murah Untuk Usaha Pembibitan Sapi Potong

Loka Penelitian Sapi Potong merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Litbang Pertanian yang dibentuk pada tahun 2002, berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Puslitbang Peternakan, mempunyai tugas pokok diantaranya melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan aspek nutrisi, peningkatan mutu, dan pemanfaatan biomas lokal sebagai pakan sapi ng. Usaha peternakan sapi potong di Indonesia didominasi oleh system usaha pemeliharaan induk-anak sebagai penghasil bakalan/ pedet (calf cow operation) Hampir 90 persen usaha ini dilakukan oleh peternak rakyat, pada umumnya belum menerapkan konsep usaha yang intensif. Usaha ini kurang diminati oleh pemodal karena dianggap secara ekonomis kurang menarik dan dibutuhkan waktu pemeliharaan cukup panjang. Paradigma pembangunan peternakan pada era globalisasi adalah terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif serta kreatif melalui peternakan tangguh berbasis sumber daya lokal. Program aksi untuk mewujudkan swasembada daging sapi pada tahun 2010 antara lain dapat dilakukan melalui kebijakan teknis pegembangan agribisnis sapi pola integrasi tanaman ternak berskala besar dengan pendekatan berkelanjutan dengan biaya murah dan optimalisasi pemanfaatan limbah atau yang dikenal dengan istilah low external input sustainable agriculture (LEISA) dan zero waste , terutama di wilayah perkebunan. Kegiatan operasional untuk pengembangan usaha perbibitan sapi potong yang murah dan efisien dapat dilakukan secara terintegrasi dengan perkebunan, tanaman pangan dan memanfaatkan sumber pakan biomas lokal. Melalui inovasi teknologi limbah dan sisa hasil ikutan agroindustri pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan sapi yang potensial untuk usaha penggemukan dan pembibitan (Badan Litbang Pertanian, 2005). Bahan pakan asal biomas lokal yang berharga murah pada umumnya bersifat serta mempunyaiketerbatasan kualitas karena kandungan protein, TDN, palatabilitas dan kecernaan yang rendah dapat digunakan secara optimal sebagai pakan basal dan telah terbukti selain dapat menurunkan biaya ransum juga mampu meningkatkan produktivitas ternak. Teknologi inovasi “pakan murah” untuk usaha pembibitan sapi potong lokal diharapkan dapat memenuhi target : Menekan kematian pedet pra-sapih kurang dari 3%,

Jarak beranak selambat-lambatnya dari 14 bulan,

Laju pertambahan bobot badan harian (PBBH) pedet s.d. disapih umur 7 bulan sekurang-kurangnya 0,4 kg,

Skor kondisi tubuh (kegemukan) induk selama menyusui dalam kategori sedang .

Usaha pembibitan sapi potong lokal dapat memberikan keuntungan ekonomis. bulky

Minggu, 24 Mei 2009

Penggemukan sapi potong

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk mencapai suatu kondisi peternakan yang tangguh, yang dicirikan dengan kemampuan mensejahterakan para petani peternak dan kemampuannya dalam mendorong pertumbuhan sektor terkait secara keseluruhannya. Pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil produksi, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan. Peternakan yang tangguh memerlukan kerja keras, keuletan dan kemauan yang kuat dari peternak itu sendiri agar mencapai tujuan yang diinginkan. Keberhasilan yang ingin dicapai akan memacu motivasi peternak untuk terus berusaha memelihara ternak sapi secara terus menerus dan bahkan bisa menjadi mata pencaharian utama. Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontibusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari, hal ini dapat dilihat dari berkembangnya jumlah kepemilikan ternak, pertumuhan berat badan ternak dan tambahan pendapatan keluarga. Agar usaha ternak sapi potong menghasilkan sapi berkualitas, peternak harus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam beternak sapi potong, antara lain: (1) Memilih bibit/bakalan yang baik; (2) Sistem pemeliharaan; (3) Pemberian pakan yang baik; (4) Pengawasan terhadap kesehatan ternak serta pengetahuan serta keterampilan yang tidak kalah pentingnya adalah (5) Pengolahan/penanganan pra dan pasca panen. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berusaha ternak sapi potong. Sarana dan Prasaranaa. Lokasi Dalam pemilihan lokasi untuk usaha ternak sapi potong sebaiknya jauh dari pemukiman masyarakat dan memiliki akses ke pasar serta letak dan ketinggian lokasi harus diperhatikan letak dan ketinggiannya terhadap lingkungan sekitar sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya. b. Lahan Status lahan harus sesuai dengan peruntukannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Penyediaan air dan alat penerangan Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup, baik manusia maupun ternak untuk itu dalam penggunaan air harus memperhatikan baku mutu air yang sehat yang dapat diminum oleh manusia dan ternak serta tersedia selalu sepanjang tahun. Sediakan juga penerangan listrik yang cukup setiap saat sesuai dengan kebutuhan dan peruntukannya. d. Kandang Pembuatan kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan dalam pemeliharaan sapi potong antara lain: (1) Kandang penggemukan; (2) Kandang isolasi ternak sakit; (3) Gudang pakan dan peralatan; (4) Unit penampungan dan pengolahan lahan. Konstruksi kandang harus kuat dan nyaman serta memiliki daya tampung dan pertukaran udara harus terjamin, lantai kandang harus kuat dan tidak licin, untuk bangunan gudang pakan harus terjamin kebersihan dan kehygienisan gudang agar pakan tetap sehat dan hygienis. Tata letak kandang dan bangunan lain harus memperhatikan: 1. Peternakan harus mempunyai satu pintu keluar masuk yang dilengkapi kolam desinfektan. 2. Letak kandang dan bangunan lain harus diperhatikan guna mempermudah dalam pengerjaan dan kegiatan sehari-hari. 3. Letak kandang isolasi harus di belakang dan agak jauh dari bangunan lainnya. 4. Jarak antar bangunan yang bukan kandang minimal 25 meter. 5. Bangunan untuk pekerja (tempa tinggal) serta hal-hal pekerjaan yang berhubungan dengan administratif harus terpisah dari kandang. e. Bibit Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit adalah sebagai berikut: 1. Bakalan sapi khusus untuk digemukkan dapat berasal dari sapi lokal/impor, serta hasil IB (Inseminasi Buatan). 2. Sapi bibit harus sehat. f. Pakan Dalam pemberian pakan harus memperhatikan: 1. Pakan harus baik yang bersala dari hijauan/rumput maupun pakan konsentrat/penguat yangdibuat sendiri atau dari pabrik. 2. Bahan campuran pakan harus diperoleh dari sumber yang telah mendapat izin. Ransum yang digunakan tidak terkontaminasi penyakit, stimulan pertumbuhan, hormon dan bahan kimia. g. Obat-obatan 1. Obat-obatan, bahan kimia dan bahan biologik harus menggunakan yang sudah terdaftar. 2. Penggunaan obat harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. h. Tenaga Kerja 1. Tenaga kerja harus berbadan sehat. 2. Pekerja harus disediakan perlengkepan keselatan kerja. Proses Produksia. Pemilihan Bibit Kriteria bibit sapi bakalan yang harus dipenuhi antara lain: 1. Bangsa sapi murni atau persilangan 2. Umur 1 – 2 tahun. 3. Berat badan sapi lokal 100 – 150 kg dan sapi persilangan 250 – 350 kg. b. Kandang Kandang yang disediakan harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Rencanakan terlebih dahulu jumlah kandang yang dibangun sesuai dengan jumlah dan jenis sapi yang akan dipelihara. 2. Kandang harus kuat, memenuhi syarat kesehatan, mudah dibersihkan, mempunyai drainase yang baik, siklus udara yang bebas yang dilengkapi tempat pakan dan minum sapi serta bak desinfektan. 3. sistem kandang dibuat berkoloni/berkelompok dan setiap kelompok berisi 5 – 10 ekor sapi dengan luas ruang 10 – 20 m persegi. 4. Jarak antar kandang dan kandang lain minimal 10 m dan jarak kandang dengan tempat penampungan limbah/kotoran sapi minimal 25 m. Kandang harus selalu mendapatkan sinar matahari pagi yang masuk ke kandang. c. Pakan 1. Pemberian pakan hijauan segar minimal 10% dari berat badan dan pakan konsentrat/penguat 0,4% dari berat badan. Pemberian pakan diberikan 2x sehari. 2. Dalam menyusun ransum agar memperhatikan keseimbangan zat-zat makanan yang dapat dicerna dalam ransum. Zat-zat makanan dasar adalah energi dan lemak, protein, mineral dan vitamin serta serat kasar. 3. Kebutuhan energi, protein dan mineral untuk penggemukan sapi potong jantan untuk tujuan pemeliharaan dan pertumbuhan adalah sebagai berikut: d. Penanganan Hasil 1. Lama/waktu penggemukan sapi potong berkisar antara 3 – 6 bulan sesuai umur dan kondisi sapi pada waktu mulai digemukkan; minimal 1 bulan terakhir sebelum dipasarkan, pemberian ransum konsentrat ditingkatkan dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa dan pakan hijauan dikurangi dari pemberian biasa serta penggunaan antibiotik dan obat-obatan diharapkan memperhatikan waktu henti obat. 2. Dilarang memperjual belikan daging yang berasal dari sapi potong selama masa pengobatan antibiotik atau hormon untuk konsumsi manusia, kecuali ternak tersebut dipotong sesuai dengan ketentuan obat yang digunakan. 3. Sapi yang sudah siap dipasarkan harus dijaga sedemikian rupa jangan sampai sapi tersebut cedera/cacat. Bobot badan saip jual minimal sapi lokal 250 kg dan persilangan atau impor 350 kg. Pengawasan1. Sistem Pengawasan Perlu menerapkan sistyem pengawasan secara baik dan periodik dalam proses produksi untuk mengantisipasi dan mengawasi kemungkinan adanya penyakit dan kontaminasi lainnya. 2. Pencatatan Dalam pencatatan, data-data yang diperlukan adalah: a. Data usaha sapi potong dengan sistem ranch: (1) Populasi ternak (Induk, pejantan, anak dara dan jantan muda); (2) Ternak betina bunting; (3) Ternak yang lahir (jantan dan betina); (4) Obat dan vaksin yang digunakan; (5) Data vaksin; (6) Data deepping; (7) Data kematian sapi (anak, muda, induk dan pejantan); (8) Jumlah Pekerja; (9) Penjualan ternak. b. Data usaha penggemukan sapi potong dengan sistem dikandangkan: (1) Populasi ternakyang digemukkan perperiode; (2) Obat dan vaksin yang digunakan; (3) Feed additive (obat yang dicampurkan dalam pakan) yang digunakan; (4) Pakan konsentrat yang diberikan perperiode; (5) Jumlah Pekerja; (6) Penjualan ternak perperiode. 3. Pelaporan a. Peternak sapi potong wajib membuat laporan dan melaporkan setiap enam bulan sekali secara berkala kepada instansi berwenang guna untuk diketahui dan pengawasan. b. Usaha sapi potong wajib membuat laporan secara tertulis setiap 6 bulan sekali guna perbaikan dan perubahan berdasarkan laporan yang ada. Mudah-mudahal tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Urine Sapi untuk Pestisida

URINE sapi sebaiknya tidak dibuang. Sebab, urine yang berbau menyengat hidung itu ternyata laku dijual untuk pestisida alami. Ingin bukti? Datang saja ke kelompok tani Mulyo asuhan Sucipto Sudarno di Dukuh Termas Desa Gringging Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

Anggota kelompok tani yang mengelola peternakan sapi itu selalu menampung urine sapi untuk dimanfaatkan sebagai pestisida alami.

''Urine yang sudah kami olah dengan empon-empon kami jual Rp 2.000/liter,'' tutur Kusno, anggota kelompok tani Mulyo, kemarin. Tidak sembarang cairan bisa dicampur dengan empon-empon (rempah-rempah).

Sebelum dijual, tentu saja urine harus di oplos dengan empon-empon seperti campuran kunyit, kencur, jahe, dan temu ireng. Sesuai dengan standar pengolahan, 100 liter urine dicampur dengan 10 kg empon-empon. Setelah dicampur dan diolah sedemikian rupa, cairan ditampung dalam tong plastik didiamkan selama empat hari. Setelah itu, cairan tersebut siap dijual ke pasaran. Harga pestisida curah itu bisa laku Rp 2.000 - Rp 4.000/liter. Bahkan ada peternak asal Boyolali yang membeli urine di Sragen dan mengemasnya kembali untuk dijual Rp 8.000 - Rp 12.000 per liter. Kelompok tani Mulyo kewalahan menerima pesanan pestisida alami itu. Sebab produksi urine sapi dari kelompok tani itu terbatas.

''Karena itu, kami juga mau membeli urine asli dari peternak sapi yang lain,'' katanya.

Pembasmi Hama

Apa manfaat urine hingga bisa laku keras di pasaran? Pestisida alami itu ternyata bisa mengusir dan membunuh hama tanaman. Penyemprotan dilakukan cukup mudah, yakni menggunakan sprayer yang biasa dipakai petani untuk menyemprotkan pestisida berbahan kimia.

Empat liter pestisida alami disaring dan dimasukkan ke tabung sprayer kemudian disemprotkan merata di tanaman padi milik petani.

''Hasilnya tidak diragukan lagi, hama wereng dan penggerek batang yang tersemprot pestisida buatan itu akan mati dalam 2-3 hari,'' kata Kusno. Anehnya, cacing tanah, belalang, atau serangga predator alami hama padi ternyata tidak ikut mati jika tersemprot pestisida buatan itu.

Disarankan saat menuang cairan ke dalam sprayer menggunakan penutup hidung karena bau pembasmi hama itu sangat tajam. Kusno mengaku, para anggota kelompok tani Mulyo mendapatkan keahlian membuat pestisida alami itu dari Sekolah Lapang Pengendalai Hama Terpadu (SLPHT) di LPH Palur, Karanganyar. (Anindito AN-16n)